Skip to main content

Posts

Showing posts with the label anak-anak

Pernahkah Merasa Menjadi Ibu yang Gagal?

Mungkin sebagian besar para ibu menjawab, Ya.  Saya tuh bisa dibilang sering merasa menjadi seorang ibu yang gagal. Daftar Isi Mengapa ibu merasa gagal Kapan ibu merasa gagal Merasa gagal dan sendirian Perlukah merasa gagal We may have lost the battle but we haven’t lost the war Pick your battles! Kesimpulan Mengapa ibu merasa gagal Dulu saya sering merasa gagal sebagai seorang ibu karena sering membandingkan anak saya dengan anak orang lain. Lama lama saya mulai membandingkan diri sendiri dengan ibu ibu lainnya yang anaknya lebih segala galanya daripada anak anak saya. Akhir-akhir ini saya membandingkan target target parenting saya dengan hasil yang tampak pada anak-anak. Sepertinya sebagian besar ibu sudah menyadari ya kalau membandingkan anak-anak maupun diri sendiri dengan orang lain itu tidak baik, tidak ada gunanya, dan hanya membuat stres atau malah depresi. Tapi membandingkan target parenting dengan hasilnya terasa natural. Ini yang namanya evalua...

Bismillah, Kembali Aktif Menulis di Blog

Seperti diceritakan di tulisan sebelumnya , saya berhenti apdet blog ini selama 4 tahun! Waktu yang sangat lama bukan? Tapi itu bukan berarti saya berhenti menulis total, karena menulis (setelah membaca) adalah aktivitas healing paling mujarab untuk saya. Salah satunya, saya menulis buku harian dan menulis status di facebook. Ih status mah bukan tulisan, dong ! tapi, kalau sedang semangat kadang status saya di facebook bisa berlembar-lembar loh ! Daftar Isi - Hiatus Ngeblog - Keasyikan di Facebook - Kesibukan selama Pandemi - Lupa Password Login ke Blogger - Tercecer dari Komunitas Blogger - What's Next?

The Palestina Question

Daftar isi - Ketika Anak Bertanya tentang Palestina - イスラームってなに?Seri Buku tentang Islam untuk Anak-anak Jepang - Pemahaman Sesuai Umur Anak Ketika Anak Bertanya tentang Palestina Buku ke-empat dari seri イスラームってなに? Bukan hanya orang dewasa yang hari ini bertanya tentang masalah Palestina.

Tentang LDM

gambar diambil dari  sini Saat menonton televisi semalam, tentang kiat-kiat penyelesaian masalah kehidupan pekerjaan, terselip kisah pelatih ski yang harus hidup di gunung dan terpisah dengan istrinya. Hubungan sang pelatih ski dan istrinya yang romantis, bahkan sms penuh cinta mereka ditayangkan dengan gamblang. Kakak nyeletuk, "Kenapa Ibu gak coba tinggal berjauhan dengan Ayah? pasti tidak akan pernah bertengkar deh" Ini mungkin yang namanya momen Mak Jleb!  LDM adalah singkatan dari Long Distance Marriage (kehidupan suami istri jarak jauh) yang merupakan bagian dari Long Distance Relationship (hubungan jarak jauh). Mengapa harus ada kategori hubungan semacam ini? karena mungkin sudah lumrahnya suatu hubungan itu menyiratkan kedekatan dan kebersamaan. LDM muncul sebagai suatu kendala, atau bisa juga suatu bentuk kompromi untuk setiap pasangan yang harus dilalui dengan baik demi mencapai visi dan misi perkawinan. Bedanya, bagi saya dan suami, yang sudah da...

Menyapih Ala Jepang

Gambar diambil dari  sini Menyusu bagi bayi memberikan dua manfaat, sumber gizi/nutrisi dan sumber comfort  kenyaman/kehangatan/kasih sayang. Bayi menyusu bukan hanya karena lapar atau haus, tapi juga karena menginginkan dekapan ibu, membuatnya tenang ketika resah atau takut, atau hanya sekedar menghilangkan lelah dan mengantarnya tidur.

MPASI Selesaaai!

Memasuki usia ke-19 bulan, Ade Haqqi sudah lulus MPASI. Menu makannya sudah sama dengan orang dewasa, kalau ada yang dibedakan paling kalau terlalu keras atau rasanya terlalu berbumbu. Kilas balik masa 18 bulan MPASI si adek yang saya abadikan (seingatnya di facebook).

Pemeriksaan 18 Bulan Adek Haqqi

suasana wawancara ibu dan tes motorik anak (foto diambil dari  sini Hari Kamis tanggal 5 Januari lalu, adek Haqqi menjalani pemeriksaan 18 bulan yang dilaksanakan secara massal di Dinas Kesehatan Pemda. Alhamdulillah karena hari kerja pertama di tahun 2017 dan masih suasana tahun baru, banyak peserta yang tidak bisa datang, jadinya tidak terlalu penuh seperti kakak-kakaknya.

3 Anak 3 Gaya

meme diambil dari  sini Meski saya sudah tau tidak boleh membandingkan anak, jangankan dengan anak orang lain, dengan saudaranya sendiri juga tidak boleh, tapi seringkali saya membandingkan juga. Kadang keluar kata-kata, "kok gak seperti si Kakak ya, atau, beda banget sama si Aa ya, atau jauh mendingan si Adek ya!". Maklum, anak tiga orang gayanya beda-beda semua. Untung anak saya cuma tiga, kalo lebih bisa sangat tertekan karena banyak yang bergaya! seperti kata si meme usil di atas. Baiklah, saya cuma mau merekap 3 macam gaya dari 3 anak di rumah: 1. Gaya Tidur salah satu momen langka anak-anak tidur bareng Gaya tidur si Kakak, sangat terjadwal. Tapi memang bukan cuma tidur aja yang terjadwal, asi juga begitu. Semua seperti punya ritme yang tetap, baik frekwensi maupun durasinya. Tidur pagi 2 jam, tidur sore 2 jam dan asi setiap 4 jam. Jarang sekali meleset dari jadwal. Saya ingat kebiasan membuat diary bayi dari RS yang tidak lama berlanjut di rumah, al...

Laporan Catur Wulan Pertama TK

suasana halaman TK Alhamdulillah, Aa Taqwa menyelesaikan satu caturwulan pertamanya di TK. Hari ini hari terakhir sekolah sebelum liburan musim panas. Masuk TK buat Aa Taqwa, walaupun anak kedua dan TK yang sama dengan TK si Kakak, plus Taqwa pun sudah terbiasa main di halaman TK dan kenal dengan beberapa guru di sana, tapi menjadi peristiwa besar buat saya. Pertama, karena saya diingatkan mertua tentang kemungkinan Taqwa "terlambat" atau "belum siap" masuk TK. Banyak keterampilan dasar yang si Aa belum mampu, dari hal yang sederhana semisal BAK/BAB sendiri di toilet, sampai kemampuan berkomunikasi dan menyesuaikan diri dengan anak seusia, maupun orang dewasa lain selain orangtuanya di TK nanti. Kedua, kekhawatiran pihak keluarga saya, bahwa si Aa masih terlalu kecil, not teachable age katanya, terlalu cepat dimasukkan ke TK. Selama 4 bulan penyesuaian kegiatan harian, bukan hanya si Aa yang repot dan capek tapi juga saya.  Sebulan pertama TK masih pendek wak...

Congklak Dua Generasi

Masa kecil saya sebagian besar dihabiskan di kampung, dimana sekeliling rumah saya adalah saudara dari pihak ibu. Hampir semua anak-anak sekitar rumah adalah sepupu, dan biasanya kami bermain bersama. Banyak sekali permainan yang seru, tapi yang paling saya ingat adalah bermain bola bekel dan congklak. Kedua permainan yang tetap bisa seru meskipun dimainkan berdua saja dengan seorang sepupu perempuan, saat sepupu-sepupu kami yang laki-laki sudah mulai malas mengikutkan kami "anak bawang" dalam permainan mereka.

Bahasa Ibu atau Bahasa Anak?

Kegelisahan terbesar saya sebagai ibu adalah perbedaan latar belakang keluarga yang sangat jauh dengan anak-anak saya. Memang seperti kata-kata bijak, anak-anak adalah anak panah dan orangtua adalah busurnya, anak-anak adalah milik zamannya masing-masing.

Aa Taqwa dan Jidoukan

Foto kegiatan di Jidoukan dari sini 2 bulan lalu, saat pulang ke rumah mertua karena urusan keluarga, Keluarga suami sempat terkaget-kaget dengan betapa "telat" nya Aa Taqwa dalam segala hal, terutama bicara/komunikasi.

Teach Your Child to Read in 100 Easy Lessons-selesai

Hari ini hari terakhir liburan musim panas, besok sudah mulai sekolah seperti biasa. Alhamdulillah di liburan musim panas ini Kakak akhirnya menamatkan Iqra dan mulai Juz Amma, juga menamatkan Teach Your Child to Read in 100 Easy Lessons   dan mulai menginjak bacaan Reading Literature  dari Baldwin Project (iyaaaaaa gratisan). Buku pegangan yang sudah lecek Mulai menggunakan reading literature Perjuangan berat selama 1 tahun lebih sejak Mendadak Calistung  , menyisihkan waktu 10 menit sebelum berangkat sekolah untuk belajar Iqra dan 100 lessons. Kenapa cuma 10 menit? karena lebih dari itu anaknya udah gak konsen, padahal untuk mengkondisikannya duduk manis perlu 1 jam lebih. Kenapa sebelum berangkat sekolah? sekalian sebagai pemanasan karena di sekolah lebih berat lagi, harus duduk manis untuk setiap jam pelajaran (45 menit!). Rasanya lega bisa menyelesaikan pelajaran membaca Al Quran dan Bahasa Inggris, tapi tugas besar menanti saya dan Kakak. Karena meskipu...

(Akhirnya) Kakak Tamat Iqra!

Buku Iqra ke-3 yang sudah berantakan saat akhirnya tamat Alhamdulillah di tengah kerepotan mengurus baby Haqqi dan mengatasi tantrum Aa Taqwa yang hampir setiap hari, ada hal membanggakan juga yang bisa kami capai; Kakak tamat belajar Iqra! Mengapa bangga? umur sudah 6 tahun baru bisa Iqra aja, gak tengok ya kanan kiri rata-rata sudah khatam al Quran bahkan malah hafal beberapa juz! Karena yang saya banggakan bukan tamatnya, tapi keberhasilan kami (ibu dan anak) yang pemalas ini untuk tidak menyerah dan terus melanjutkan belajar Iqra yang sebenarnya sudah dimulai sejak Kakak berusia 2 tahun. Beberapa kali mandek lalu mengulang lagi dari awal tetapi konsisten setiap hari belajar, walaupun kadang cuma 2 kata, tidak lebih dari satu atau dua menit setiap hari. Kalau terpaksa libur maka si Kakak lupa lagi dan terpaksa harus mengulang lagi beberapa halaman ke belakang. Perjuangan belajar iqra ini mengingatkan saya akan hadist tentang keadaan manusia menyebrangi shirathal mustaq...

Cerita Kelahiran Haqqi

Kehamilan ketiga ini merupakan "surprise", bahkan teman saya sempat meledek, "unexpected yaaa!". Yah, buat saya memang unexpected, tapi tidak buat suami saya yang kepengen punya 5 anak (yaaah bukan dia yang hamil dan melahirkan siy hi3). Jangan salah, saya sendiri berasal dari keluarga besar, 5 bersaudara! saya senang punya banyak anak, sayang sekali buat saya proses kehamilan dan persalinan yang melelahkan membuat saya sering ketakutan sendiri. Bagaimana jika di kehamilan kali ini saya tidak bisa "survive"? bagaimana jika anak-anak harus menjadi piatu? bukankah tugas saya bukan hanya melahirkan tapi juga membesarkan anak-anak? semakin mendekati hari perkiraan lahir saya semakin sering memandangi wajah anak-anak, memeluk mereka lebih sering karena takut kesempatan saya bersama mereka tinggal sebentar saja dan mewanti-wanti suami supaya hati-hati pilih istri baru nantinya. Lebay??? iya lebay banget! Tapi bukan hanya saya yang lebay, dokter-dokter di RS ju...

Mengingat Lagi: ASI, MPASI, Menyapih dan Toilet Training (1)

Memasuki trimester ketiga kehamilan (yang juga ketiga kalinya), saya mulai bersiap lahir bathin menyambut kedatangan adik bayi. Persiapan melahirkan terbilang minim, cukup diet supaya BB gak terlalu naik banget dan bikin megap-megap bawa badan, juga olahraga ringan berjalan kaki dan stretching  ibu hamil sesuai buku panduan dari rumah sakit (buku yang sama yang saya pakai saat hamil pertama kali). Karena minggu-minggu ini sibuk dengan persiapan kelulusan Kakak dari TK dan penerimaan murid baru di SD, rencana mengemas koper untuk rawat inap saat bersalin malah belum disiapkan. Alhamdulillah baju bayi maupun baju hamil/piyama selama rawat inap sudah cukup, karena pemberian teman yang melahirkan musim panas tahun lalu (2 kehamilan sebelumnya musim dingin, jadi semua baju harus baru deh ).

Betapa Berharganya Ijazahmu, Nak!

Hari ini Kakak lulus TK. Dengan bangga menerima ijazah dari Ibu Kepala TK membungkukkan badan, lalu berjalan tegap, kembali ke tempat duduk, sabar menanti semua teman mendapatkan ijazahnya.

Saya dan Homeschooling (bagian 2): Charlotte Mason

Charlotte Mason Charlotte Mason 1841-1923 Untuk mengenal siapa Charlotte Mason dan filosofi pendidikannya, Ambleside Online menyediakan buku-buku Charlotte Mason Series yang dapat dibaca online. Saya juga didaftarkan seorang teman praktisi homeschooling  ke grup  Charlotte Mason Indonesia  dimana saya dapat membaca ringkasannya dalam bahasa Indonesia. Dari membaca filosofi pendidikan ala Charlotte Mason, saya mendapat banyak sekali ide bagaimana menghabiskan hari bersama Kakak di usia 0 sampai 3 tahun, sebelum Kakak mulai masuk TK. Ada tiga hal dari filosofi pendidikan Charlotte Mason yang saya ingin terapkan secara konsisten yaitu mengenalkan kebiasaan baik dalam keseharian ( good habit ) , sebanyak mungkin bemain di luar rumah ( outdoor/nature play) , dan membacakan buku bermutu (living books) .

Hingga Hembusan Nafas Terakhir

Sebelum keburu hamil adik dan tumbang karena morning sickness yang parah, saya sempat bergabung duduk melingkar dalam pengajian dua mingguan di sebuah keluarga pasangan Pakistan-Jepang di Tokorozawa. Teringat "tips" dari si empunya rumah, memperkenalkan islam kepada anak-anak itu harus disesuaikan dengan perkembangan usia dan nalar anak-anak.