Skip to main content

Posts

Showing posts from August, 2014

Masih Mencari Sarang Semut

Saya lahir dan besar di kampung, tau makanan camilan ya kebanyakan makanan tradisional yang digoreng atau dikukus, jarang sekali menggunakan oven untuk memasaknya. Satu-satunya cake yang saya tau sejak kecil adalah si kue hitam manis, sarang semut.   Sejak saya belajar memasak dan sedikit baking, saya sudah langsung mencoba membuat kue sarang semut. Pencarian resep sarang semut menghabiskan banyak waktu, karena kelihatannya semua sulit dan bahannya banyak. Dari mulai yang katanya masaknya sambil buka tutup pintu oven (mustahil untuk oven saya, pintunya dibuka langsung mati), dan telur yang rata-rata lebih dari 6 butir.  Resep yang pertama saya coba mengharuskan menggunakan loyang tulban, loyang berlubang di tengahnya. Saya nekat menggunakan loyang kertas untuk sifon cake, dan tahulah saya ternyata adonan kue sarang semut itu cair! adonan saya sukses merembes keluar dari cetakan saat dipanggang, dan berakhir di tong sampah. Saya kemudian mencari loyang tulban yang terbuat dari

Kalah : Nangis atau ......

Disclaimer: tidak ada hubungannya dengan Pilpres 2014 Membaca (lagi) Parentonomics  , khusus bab tentang menemani (melayani) anak main game. Sang Ayah tetep ngotot "I play to win", jadi tidak ada acara mengalah demi menjaga mood anak, apalagi kalo mainnya untuk mengisi waktu menunggu makan malam. Sementara sang Ibu lebih memilih "play it save" demi mengakomodir suasana permainan. gambar diambil dari sini Rupanya kami juga mirip, suami kalau main game serius, tak peduli lawannya masih di bawah umur. Semalam suami main junior scrabble melawan Kakak (5 tahun 8 bulan), dan kelihatan si Kakak sudah kewalahan. Akhirnya saya pun turun tangan membentuk tim Ibu-Kakak. Kami menang tipis dengan skor 13-10. Kami langsung ber-high five, dan saya pun ngeloyor melanjutkan pekerjaan saya, sambil meledek, "Untung Kakak menang ya, soalnya kalo gak menang pasti nangis deh". Kakak (sambil dengan wajah gembira membereskan papan scrabble) menjawab, "Idih, siap

Saat Dijemput Ambulans

gambar diambil dari sini Saya pernah pingsan saat upacara sekolah, juga saat berdesakan di dalam bis kota, juga di ruangan kuliah di kampus. Pernah juga kliyengan di pusat perbelanjaan saat hamil muda, juga saat hamil tua bahkan setelah melahirkan karena kurang darah. Tapi alhamdulillah, tidak pernah sampai harus dijemput ambulans. Tidak ada diagnosis penyakit yang berat juga, setelah sadar dan segar bugar kembali, yang tersisa hanya rasa malu, kok bisa yah tadi semaput! Tapi hari ini, akhirnya saya, atau tepatnya kami: saya, kakak dan adek ramai-ramai diangkut ke RS dengan ambulans. Ceritanya karena adek, yang kebetulan sejak 4 hari yang lalu demam, mendadak mengalami gejala yang mirip alergi. Hari masih pagi sekali, suami baru saja berangkat ke kantor. Adek yang ikut terbangun dan ikut sarapan roti dengan sedikit selai kacang tiba-tiba area sekitar mulut mulai memerah dan muncul bentol-bentol, yang lalu menyebar ke mata, telinga, leher dan lipatan sikut. Keluarga kami tidak

Refleksi Ramadhan 1435H

Ramadhan adalah momen yang paling pas untuk belajar agama islam bersama keluarga. Karena tinggal di negeri asing dimana muslim adalah minoritas, ditambah sedikit sekali pengetahuan tentang islam/muslim penduduk setempat, sungguh memberikan tantangan tersendiri. Tentu selalu ada pilihan untuk fokus berkegiatan di komunitas muslim, tetapi bagi kami sangat terbatas oleh jarak, waktu dan biaya. Jadi kegiatan komunitas muslim yang diikuti benar-benar yang prioritas saja. Seperti telah ditulis sebelumnya , setelah menginjak usia 5 tahun saya mulai mengajar agama islam menggunakan media baca tulis kepada Kakak dengan bersama-sama membuat lapbook (semacam kliping) Rukun Iman. Selama ini saya hanya mengajak Kakak bercerita atau menunjukkan video gratisan dari youtube. Sekarang karena Kakak sudah mengerti bahwa Al-Quran itu adalah kitab petunjuk, sedapat mungkin semua informasi diambil langsung dari Al-Quran. Lapbook rukun iman sekarang menginjak rukun terakhir, qada dan qadar. Memasuki Rama

Kemewahan itu adalah.....

  Bangun pagi mencium wangi roti yang baru selesai dipanggang! tapi itu kemewahan versi keluarga saya. Kemewahan yang sangat terjangkau.   Roti tawar buatan sendiri, bagian luarnya crispy, bagian dalamnya empuuuk dan masih hangat! Mungkin dengan menginap di hotel atau pension yang menyajikan roti homemade adalah kemewahan yang sesungguhnya. Memanggang roti di rumah juga mungkin lebih menyulitkan buat orang lain. Bahkan ada teman saya yang bilang, malas baking karena takut belepotan tepung! HB kesanyangan, plus bread cutter yang sekaligus jadi tempat menyimpan roti di sebelahnya Lucu juga pertama kali mendengarnya, seakan-akan kalau baking di dapur itu sekalian mandi tepung. Dulu saat pertama nekat baking, saya berkutat di dapur kecil tanpa counter. Jadi kalau membuat adonan harus di ruang tamu, itupun menggunakan meja kotatsu, meja rendah ala Jepang, menguleni adonan sambil bersimpuh haha! Tapi tetep gak pake mandi tepung dong ah! Sekarang saya tidak menguleni