Skip to main content

Posts

Showing posts from December, 2015

Bahasa Ibu atau Bahasa Anak?

Kegelisahan terbesar saya sebagai ibu adalah perbedaan latar belakang keluarga yang sangat jauh dengan anak-anak saya. Memang seperti kata-kata bijak, anak-anak adalah anak panah dan orangtua adalah busurnya, anak-anak adalah milik zamannya masing-masing.

Me Time-ku Kini Tidak Sendiri Lagi

minum teh dengan Kakak saat adik-adik tidur siang Saya mendengar kata "me time" saat saya membaca buku atau artikel tentang ibu yang mengalami maternity blues, yang selama 24 jam terus menerus merawat bayi yang baru lahir sehingga ibu tidak sempat melepas penat dan rasa lelah.

ママは働いたらもっとスゴイぞ!Kalau Ibu juga bekerja tentu lebih hebat!

Buku terbitan 2007 dtulis oleh 和田清華 (Sayaka Wada) yang memang motivator, jadi sebagian besar pesan2-pesanya tidak terlalu baru. Mungkin karena beliau juga seorang ibu dengan 2 anak, tulisannya terasa lebih tepat sasaran. Sambil baca buku ini saya jadi secara tidak sadar menyamakan penulisnya dengan aktivis ibu bekerja 勝間和代 (Kazuyo Katsuma). Tapi belakangan ibu ini sering banget ngomong di TV...ketimbang aktivis mungkin lebih cocok dibilang celebritis ya. Kazuyo Katsuma pernah bilang kalo para ibu yang mengambil cuti setelah melahirkan (育児休業中), biasanya selama setahun, mereka sering merasa khawatir setelah vakum sekian lama pas nanti kembali ke tempat kerja gak akan bisa berkinerja seperti sebelumnya. Nah, blio bilang, ibu yang cuti itu seperti seorang pitcher baseball ternama (saya lupa namanya) yang kalau tidak sedang bertanding atau berlatih, tangannya harus dibebat dan tak banyak digunakan. Begitu bebat dibuka, maka tenaga yang keluar akan begitu besar selayaknya sebuah dam yang

「さみしいママ」にさよなら, Sayonara Ibu yang Kesepian!

Memang buku ini umurnya sudah tua, diterbitkan pertama kali tahun 1997, tapi curhatan2 para ibu di dalamnya masih familiar. Kesimpulannya, proses menjadi ibu yang bahagia hari ini mungkin hampir sama dengan para ibu generasi 10 tahun lalu. Buku ini berisi 6 bab yang masing2 diawali dengan curhatan2 para ibu yang merasa kesepian lengkap dengan keluhan2nya masing2. Tentu saja ibu kesepian disini tidak identik dengan ibu rumah tangga, banyak juga curhatan ibu bekerja yang merasa kesepian karena merasa mendidik anak hanyalah tanggung jawab yang harus dipikul sendirian oleh seorang ibu. Kemudian dipaparkan statistik hasil survey mengenai topik yang dibahas pada bab tersebut, dan diakhiri dengan ulasan dan saran dari senpai mama atau dari konselor. Dari bab 1 sampe bab 5 berturut2 dibahas mengenai rasa sepi karena hanya menjalani peran sebagai seorang ibu, merasa sepi walaupun selalu bersama suami, merasa sepi karena merasa terputus dari dunia luar, menjadi rendah diri karena merasa &

Ibu yang hebat, Ibu yang kesepian (pengantar)

gambar diambil dari shutterstock Minggu ini saya pinjam 3 buku di perpus, 「さみしいママ」にさよなら terjemahan bebasnya kira2 "selamat tinggal ibu yang kesepian", 「ママは働いたらもっとスゴイぞ!」 terjemahan bebasnya "Ibu bekerja lebih hebat lho!" dan 「よいおもちゃとはどんなもの?」terjemahan bebasnya "seperti apa sih mainan yang baik itu?".   Dua buku pertama saya baca paralel, ternyata enak banget dibacanya, hampir gak bisa berhenti. Biasanya kalo saya lagi baca buku jepang, yang liat musti bingung saya ini baca buku apa baca kamus? hehehe. Kedua buku ini menggunakan kata-kata yang sederhana dan setiap bab-nya pendek-pendek berisi kalimat yang efektif. Buku ketiga baru saya scanning aja, rencananya mau saya baca pelan-pelan sambil dicatat poin pentingnya, maklum, memilih mainan mungkin bakalan jadi masalah sehari-hari yang paling banyak menyita pikiran saya nantinya.   Buku tentang ibu yang kesepian dan ibu yang hebat tadi awalnya saya pikir hanyalah buku model self-help books yang isi

Dilema Menulis tentang Parenting

Setiap hendak menulis tentang parenting saya selalu maju mundur, meskipun berhasil menulisnya tetap saja saat hendak meng-klik button publish saya kembali ragu-ragu. Akhirnya kemarin saya kepikiran terus menganalisis mengapa menulis tentang parenting begitu dilematis.   Berikut daftar pikiran negatif yang saya rasakan ketika menulis tentang parenting, termasuk menulis tentang tumbuh kembang anak-anak:

Aa Taqwa dan Jidoukan

Foto kegiatan di Jidoukan dari sini 2 bulan lalu, saat pulang ke rumah mertua karena urusan keluarga, Keluarga suami sempat terkaget-kaget dengan betapa "telat" nya Aa Taqwa dalam segala hal, terutama bicara/komunikasi.