Skip to main content

Slow Cooking Mommy!

Memasuki bulan September, saatnya bersiap mengumpulkan kalori menghadapi musim dingin. Musim gugur adalah saat petani memetik hasil jerih di sawah, kebun dan ladang. Padi yang menguning, buah-buahan yang meranum, dan sayur mayur yang melimpah. Juga cuaca yang ramah, tidak segarang musim panas tapi belum membekukan seperti musim dingin. Efeknya bagi manusia? kepingin jalan-jalan menikmati udara sejuk tapi tetep menikmati makanan rumahan. Solusinya? masak menggunakan slow cooker!




ditempatkan bersebelahan dengan rice cooker, 
di set waktunya supaya nasi n lauk mateng barengan
Ceritanya jadi juga beli slow cooker, setelah lama ngebet banget pengen beli gara-gara liat resep-resep praktis slow cooker di sini. Tapi gak berani beli karena tentunya takut gak balik modal, beli mahal-mahal jarang dipakai, plus yang paling bikin males siy karena gak ada tempat buat nyimpennya. Kebayang nasib slow cooker bakal seperti pressure cooker, yang nongkrong di lemari dan jarang dipakai karena males ngeluarin dan males masukinnya lagi. Dulu sewaktu anak masih satu, sering dibawa jalan-jalan main di luar, pressure cooker sangat berguna karena bisa masak dalam waktu singkat. Sekarang setelah anak jadi 3 orang, saya tidak bisa konsentrasi di dapur, meskipun waktu singkat sekalipun. Akhirnya slow cooker lah solusinya, tinggal masukin bahan, nyalakan, tinggal dan baru ditengok kalo udah mateng.

Karena males muter-muter toko online cari yang terbaik tapi termurah, saya minta suami yang pilihin si slow cooker, gak penting merek lah asal murah meriah. Tapi ternyata begitu datang barangnya, gak ada built-in timer nya, alias harus dimatikan manual! laaaah gimana ceritanya, kan maunya masak terus ditinggal jalan-jalan septemberan! terpaksa tambah beli timer pemutus aliran listrik sendiri. Yah, masih ada untungnya juga siy, karena bisa dipakai untuk semua elektronik, gak cuma si slow cooker aja (alesan!).

tampilan timer pemutus aliran listrik otomatis
Oke deh, inilah hasil olahan pertama slow cooker, Japanese Curry di hari pertama (dimasak sambil ditingal main sama anak-anak), dan Pindang Daging di hari kedua (dimasak sambil ditinggal bobok, pagi mateng langsung masuk kotak bekel makan siang Ayah & Aa).

Beef Katsu Kare, tampang curry nya udah hancur,
secara ini adalah menu daur ulang sisa curry kemarin malam
Baca juga Resep Homemade Instant Curry Roux
Bangun pagi tinggal bikin nasi di panci (ikut menu SD si Kakak,
karena kebetulan hari ini nasi catering sekolah gak bisa dimakan),
pindang sapinya udah matang dan empuk karena dimasak semalaman
Mudah-mudahan awet dan bisa digunakan maksimal deh ya, aamiin!

Comments

  1. Aku pke slow cooker buat masak mpasi saat anak2 bayi, ternyata manfaatnya bnyk bgt ya. Ntr kpn coba aah buat msk org dewasa. Tfs mba :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya rata2 yang beli slow cooker katanya untuk bikin mpasi...lah saya malah gak tau, karena buat mpasi di rice cooker :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Youkan atau Dodol Jepang

Homemade Mizuyoukan Saat Ibu saya mengunjungi kami di Tokyo, kegembiraan beliau yang paling terasa adalah menemukan kembali makanan masa kecil. Meskipun Tokyo adalah kota metropolitan yang canggih dan gemerlap, tapi tengoklah pojok makanan tradisional mereka. Jangan kaget jika menemukan teng teng beras, opak, kue mochi, kue semprong, rambut nenek-nenek (harum manis di-sandwich semacam kerupuk renyah), kolontong ketan, gemblong dan banyak lagi. Karena saat itu musim gugur, kesemek membanjiri supermarket, Ibu saya selalu berfoto dengan gunungan buah kesukaannya di masa kecil, yang kini jarang ditemukan di negerinya sendiri. Tapi yang paling beliau sukai adalah, youkan. Beliau menyebutnya dodol. Ada banyak sekali varian youkan, tapi yang beliau sukai adalah shio youkan. Bedanya dengan dodol, kadang ada dodol yang kering, atau dodol yang agak liat. Saya sendiri suka dengan makanan tradisional Jepang, mengingatkan pada camilan kalau mudik ke Tasik saat lebaran. Masalahnya, rata-rata b...

Mak Rempong dan SIM Jepang

Buku-buku materi kursus mengemudi Alkisah, saya seorang Mak Rempong di usia 40-an dengan 3 orang anak (9 tahun, 5 tahun, dan 2 tahun) merengek meminta Me Time ala Mamah Muda kepada suami. Suami menyambut gembira, bersedia menjaga anak-anak di rumah, tapi me time yang ditawarkan adalah kursus mengemudi!

Menyepi di Pusat Ginza

  I  have come a long way. Seharusnya ada banyak tulisan yang mendahului tulisan ini, karena saya terbiasa untuk bercerita runut, semacam OCD dalam kegiatan ngeblog . Tapi tulisan ini tidak bisa menunggu. lorong yang panjang menuju cafe, diambil dari tabelog Akhirnya hari ini saya memasuki lorong itu. Sebuah lorong kecil menuju sebuah cafe yang luas, dalam sebuah gedung menghadap perempatan Ginza yang ramai. Hari Sabtu, Ginza dibebaskan dari kendaraan yang biasaya berlalu-lalang dengan sibuk. Semacam car free day di Jakarta. Dan dari sudut cafe yang menghadap jendela besar ini, saya bisa mengamati tindak tanduk para wisatawan pejalan kaki, yang asik berfoto, berdiri tercenung menatap peta di layar smartphone , atau yang berjalan mantap menuju tempat tujuannya. Mengapa Ginza? Ah, panjang sekali ceritanya. Singkatnya, Pada suatu hari saya terpikir untuk bekerja paruh waktu. Setelah berpuluh tahun berkutat dengan hobi yang melulu di rumah, saya memutuskan...