Skip to main content

Menyurangi Resep Tempura

Setelah sukses menyurangi resep ebifurai, saya pun kembali menyurangi resep tempura.



Silakan baca Menyurangi Resep Ebifurai

Biasanya resep kulit (dalam bahasa Jepang disebut koromo č”£ć€€yang secara harfiah bisa diartikan jubah), menggunakan putih telur, bahkan tepung tempura yang sudah jadi biasanya mengandung egg powder. Sekali lagi saya menggunakan mayonaise untuk membuat kulit tempura. Berikut resep lengkapnya




Resep Tempura

Bahan:

Isian tempura sesuai selera

Udang, cumi-cumi, ikan, dll
Daun kemangi Jepang (shiso), terong, shiitake, akar lotus (renkon), gobou, dll

Kali ini saya cuma membuat tempura udang dan daun ashitaba.

Udang dikerat di beberapa tempat supaya tidak terlalu bengkok dan kelihatan gemuk.
Cuci dan tiriskan isian tempura, usap dengan kertas tissue dapur supaya kering.

Kulit:

1 sdm mayonaise
50 gr tepung terigu
75 ml air dingin
Minyak goreng secukupnya sampai bahan yang digoreng terendam minyak seluruhnya,
saya menggunakan minyak canola

Celupan

Lobak parut dan mentsuyu  secukupnya.

Cara Membuat:

1. Tambahkan 10 ml air dingin ke dalam adonan, sebelum menggoreng sayuran karena kulit untuk menggorang sayuran lebih encer daripada adonan untuk isian udang atau ikan.  Aduk rata dengan whisk.

2. Panaskan minyak, celup isian tempura kedalam adonan, goreng satu persatu, sayuran digoreng lebih dulu, mulai dari sayuran hijau. Sayuran digoreng dengan suhu minyak 150-160 derajat. Goreng Udang dan ikan dengan suhu minyak 170 derajat. Tidak perlu membolak-balik tempura saat digoreng.

3. Angkat dan tiriskan tempura. Sajikan di atas pinggan yang dialasi kertas minyak. Hidangkan dengan celupan lobak parut.

Comments

  1. Replies
    1. biang untuk sup udon mbak, tapi kalo gak ada bisa juga cocolan tempuranya diganti garam kasar dan peresan lemon, enak juga :)

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Youkan atau Dodol Jepang

Homemade Mizuyoukan Saat Ibu saya mengunjungi kami di Tokyo, kegembiraan beliau yang paling terasa adalah menemukan kembali makanan masa kecil. Meskipun Tokyo adalah kota metropolitan yang canggih dan gemerlap, tapi tengoklah pojok makanan tradisional mereka. Jangan kaget jika menemukan teng teng beras, opak, kue mochi, kue semprong, rambut nenek-nenek (harum manis di-sandwich semacam kerupuk renyah), kolontong ketan, gemblong dan banyak lagi. Karena saat itu musim gugur, kesemek membanjiri supermarket, Ibu saya selalu berfoto dengan gunungan buah kesukaannya di masa kecil, yang kini jarang ditemukan di negerinya sendiri. Tapi yang paling beliau sukai adalah, youkan. Beliau menyebutnya dodol. Ada banyak sekali varian youkan, tapi yang beliau sukai adalah shio youkan. Bedanya dengan dodol, kadang ada dodol yang kering, atau dodol yang agak liat. Saya sendiri suka dengan makanan tradisional Jepang, mengingatkan pada camilan kalau mudik ke Tasik saat lebaran. Masalahnya, rata-rata b...

Mak Rempong dan SIM Jepang

Buku-buku materi kursus mengemudi Alkisah, saya seorang Mak Rempong di usia 40-an dengan 3 orang anak (9 tahun, 5 tahun, dan 2 tahun) merengek meminta Me Time ala Mamah Muda kepada suami. Suami menyambut gembira, bersedia menjaga anak-anak di rumah, tapi me time yang ditawarkan adalah kursus mengemudi!

Menyepi di Pusat Ginza

  I  have come a long way. Seharusnya ada banyak tulisan yang mendahului tulisan ini, karena saya terbiasa untuk bercerita runut, semacam OCD dalam kegiatan ngeblog . Tapi tulisan ini tidak bisa menunggu. lorong yang panjang menuju cafe, diambil dari tabelog Akhirnya hari ini saya memasuki lorong itu. Sebuah lorong kecil menuju sebuah cafe yang luas, dalam sebuah gedung menghadap perempatan Ginza yang ramai. Hari Sabtu, Ginza dibebaskan dari kendaraan yang biasaya berlalu-lalang dengan sibuk. Semacam car free day di Jakarta. Dan dari sudut cafe yang menghadap jendela besar ini, saya bisa mengamati tindak tanduk para wisatawan pejalan kaki, yang asik berfoto, berdiri tercenung menatap peta di layar smartphone , atau yang berjalan mantap menuju tempat tujuannya. Mengapa Ginza? Ah, panjang sekali ceritanya. Singkatnya, Pada suatu hari saya terpikir untuk bekerja paruh waktu. Setelah berpuluh tahun berkutat dengan hobi yang melulu di rumah, saya memutuskan...