Thursday, May 22, 2014

Ibu kangen sepatu kotormu, Nak

gambar diambil dari
http://www3.ocn.ne.jp/~wakatake/
Kakak (5 tahun 6 bulan), sudah kelas besar di TK, April tahun depan Insya Allah mulai masuk SD. Karena pernah tidak lulus ujian masuk di TK dekat rumah yang dulu, Kakak sekolah di TK yang sekarang. Nama TK-nya wakatake, yang artinya, Bambu Muda. Setelah dijalani, kami jatuh cinta kepada TK ini, bahkan kami memutuskan untuk pindah rumah demi dekat dengan sekolah, walaupun dengan konsekuensi ayahnya harus lebih jauh mengayuh sepeda menuju stasiun setiap hari untuk  berangkat kerja.

Bangunan sekolah yang tua, ada 2 bangunan dan masing-masing cuma satu lantai, dengan lapangan tanah yang luas plus kebun dan lapangan bola benar-benar suatu kemewahan untuk kami yang tinggal di Tokyo. Bangunannya, bahkan tanaman-tanamannya mengingatkan saya dengan sekolah SD saya di kampung. Walaupun sesuai gosip yang beredar di kalangan ibu-ibu, bahwa TK ini benar-benar memanjakan anak tetapi "mengerjai" orangtua, saya tetap cinta dan Insya Allah nanti si adek juga mau dimasukan ke wakatake juga.

Kenapa dibilang mengerjai orangtua? karena orangtua harus ikut serta dalam setiap kegiatan sekolah. Mungkin semua sekolah TK di Jepang sama, setiap orang tua sedikit banyak mendapat "bagian" tugas dalam mendukung semua kegiatan sekolah, tetapi ada beberapa kegiatan yang "unik" yang juga harus dikerjakan para orangtua yang menyekolahkan anaknya di wakatake. Salah satunya adalah, menyiapkan ladang yang akan dipanen anak-anak. Dalam setahun anak-anak panen 3 kali; panen kentang di musim panas, ubi jalar di musim gugur, dan lobak jepang di musim dingin. Kegiatan memanen ini umumnya merupakan kegiatan anak TK di Jepang, bedanya wakatake termasuk salah satu TK yang kebunnya dikelola sendiri. Jadilah kami ibu-ibu harus datang pagi buta dan menyiapkan ladang agar nanti anak-anak dapat memanen dengan mudah. Karena mencabut kentang, ubi jalar dan lobak yang besar-besar itu ternyata memerlukan tenaga kuat! bahkan termasuk untuk kami orang dewasa.

Satu lagi yang benar-benar mengerjai adalah penjualan foto-foto kegiatan dan keseharian sekolah. Sementara TK lain cukup memajang di website masing-masing untuk diunduh gratis, kami harus datang ke sekolah, memeriksa satu demi satu foto di dinding lalu memesan foto yang diinginkan. Mahal pula! lima kali lipat harga pasar. Bukan sekali dua kali kami meminta pihak sekolah memperbaharui kebijakan foto ini, tapi sampai sekarang belum berhasil. Silakan melihat-lihat contoh foto kegiatan anak-anak disini.

Bukan hanya kami para orangtua yang dikerjai, tapi juga para ibu dan bapak guru. Karena untuk mengurus 2 gedung sekolah, 2 lapangan , dan ladang sama sekali tidak melibatkan petugas kebersihan maupun tukang kebun! ibu bapak guru yang menyapu, mengepel lantai atau menyikat kamar mandi adalah pemandangan biasa bagi kami para orangtua. Bahkan ketika mulai tahun ini uang SPP naik, sekolah menambah permainan baru, rumah pohon di halaman sekolah! Ada seorang ibu yang nyeletuk, "harusnya daripada buat mainan baru mending buat membayar petugas kebersihan profesional". Ya, wakatake cenderung kotor. Pertama kali sempat kaget mendapati bagian (maaf) pantat rok atau celana panjang si kakak yang kotor, seringkali sampai ke (maaf lagi) celana dalamnya!. Bahkan ibu-ibu yang anaknya laki-laki, sering mendapati celana panjang yang bagian pantatnya bolong! Dan yang terparah adalah, sepatu. Setiap hari senin kami membawakan dua pasang sepatu untuk ditaruh di sekolah, satu sepatu dalam ruangan (disebut uwabaki) dan satu lagi sepatu luar ruangan yang dipakai untuk bermain di halaman sekolah. Hari jumat-nya anak-anak membawa sepatu-sepatu tersebut pulang untuk dicuci kami, para ibu. Benar-benar kotor! dan dalam setahun kami membeli sepatu baru sampai 3 kali, bukan hanya karena sepatu yang sudah kekecilan, tapi karena sol sepatu yang sudah miring atau bahkan jebol!

Lalu tentang "memanjakan" anak, wakatake memang membebaskan anak-anak bermain sepuasnya. Saat pertama kali datang untuk observasi sekolah, Ibu Kepsek menekankan bahwa anak-anak tidak akan diajari membaca, menulis, dan berhitung sama sekali. Fokus utama adalah bermain, banyak bergerak, dan bernyanyi. Hal ini yang membuat saya sedikit gelisah. Karena membayangkan "culture shock" yang akan dialami Kakak saat mulai sekolah SD. Jepang menggunakan  huruf hiragana dan katakana masing-masing 46 karakter, juga huruf kanji yang dipelajari selama SD sebanyak 1.006 karakter (silakan lihat daftarnya untuk setiap kelas disini) dari total 2.136 minimal jumlah huruf kanji  yang harus diketahui untuk kehidupan sehari-hari (menurut wikipedia). Memang kebijakan sekolah mengharuskan kami menuliskan nama anak-anak dengan huruf kanjinya pada setiap barang milik anak-anak (alasan pihak sekolah supaya mereka terbiasa melihat huruf kanji), entah bagaimana nanti ibu bapak guru SD bisa mengajari anak-anak wakatake, yang kerjanya di TK hanya maiiiiiin saja, untuk bisa duduk tenang, berlatih menulis semua huruf-huruf itu berkali-kali! saya juga takut si Kakak tertinggal oleh anak-anak dari TK lain yang sudah belajar calistung, sehingga akhirnya frustrasi dan mangkir tidak mau sekolah.


Entah pihak sekolah merasakan kekhawatiran kami para orangtua murid, atau memang akhirnya ibu Kepsek menyadari perubahan tuntutan zaman agar anak-anak bisa membaca sebelum masuk SD. Genap sebulan di kelas besar, seperti biasa Kakak membawa pulang prakarya yang dikerjakan di sekolah, dan kami mendapati; selembar kertas latihan menulis hiragana! Padahal Ibu Kepsek tidak pernah menyinggung tentang perubahan kebijakan ini. Anak-anak juga tidak memiliki alat tulis seperti pensil atau penghapus (Kakak cerita semua anak "dipinjami" pensil oleh Ibu Guru). Saya pun mulai menyadari perubahan-perubahan kecil, misalnya ketika harus menjemput Kakak di ruang kelasnya karena hari hujan (biasanya anak-anak diajak berbaris ke lapangan sepakbola, lalu ibunya ikut berbaris di sampingnya, mengucapkan selamat tinggal kepada Ibu Guru sebelum kemudian pulang ke rumah masing-masing). Kelas kelihatan kacau sekali, ada anak yang masih belum selesai makan snack, yang terburu-buru menyiapkan barang bawaan dan lain sebagainya. Begitu pula dengan sepatu yang dibawa pulang Kakak. Saya perhatikan tidak sekotor biasanya, juga berjejalan dengan topi dan lap tangan di dalam tas yang seharusnya khusus sepatu saja, yang mengindikasikan semakin sedikitnya jumlah bermain, dan Kakak terburu-buru membereskan barang bawaannya, karena sekarang ada waktu yang harus disisihkan untuk belajar menulis!

Saya mencelos, seperti ada sesuatu yang diambil dari dalam dada saya. Tidak rela waktu bermain Kakak berkurang, bahkan dari sejak sekarang. Tapi memang sedikit demi sedikit Kakak harus disiapkan untuk perubahan yang sudah menunggunya. Tidak semua hari dapat dilewati dengan mudah, tidak selalu kegiatan belajar itu menyenangkan dan boleh berisik. Tidak semua pekerjaan yang memastikan dunia ini berputar adalah pekerjaan yang mengasyikan sekaligus membanggakan. Ibu siap mencari celah waktu lebih supaya Kakak bisa lama bermain setelah pulang sekolah. Semangaaat!

2 comments:

  1. "Tidak semua pekerjaan yang memastikan dunia ini berputar adalah pekerjaan yang mengasyikkan sekaligus membanggakan"
    Ah... Anak"ku, mama harap kamu mendapat pekerjaan yang sesuai dengan hati nuranimu...

    ReplyDelete
  2. amiiin....intinya harus ulet...perseverance...walaupun membosankan he3. Ini gue lagi bacain buku tentang masinis dan kondektur kereta api, pekerjaan yang membosankan tapi menopang kehidupan banyak orang. Dunia ini seperti piramida....yang paling top cuma segelintir orang....sebagian besar kita menopang dunia ini....tanpa sempat menjadi kaya raya apalagi terkenal :)

    ReplyDelete