Skip to main content

English Muffin tanpa Oven


English Muffin adalah sejenis roti favorit untuk sarapan di rumah. Tapi jarang sekali karena harganya lumayan mahal dibanding roti tawar biasa. Bagian luarnya crispy  dengan aroma tepung jagung yang di panggang, sementara bagian dalamnya kenyal. English Muffin biasanya sebungkus isi 4 buah, harganya sekitar 158 yen (17 ribu rupiah). Setiap buahnya dibelah 2, lalu dipanggang sebentar di oven toaster, dibuat sandwich dengan isian selada/kol parut plus telur mata sapi.

Sebenarnya saya ingin sekali membat sendiri English Muffin tapi kesannya resepnya susah dan harus menggunakan tepung jagung yang menurut saya agak mahal, belum lagi perlu menggunakan cetakan ring. Lalu saya menemukan resep English Muffin yang sangat praktis disini, tanpa cetakan dan bahkan tanpa oven!

resep asli:

How to Make English Muffin at home

Beruntungnya setelah lama mencetak resep dan memajangnya di dapur karena wegah membeli tepung jagung yang mahal, minggu lalu kebetulan menemukan tepung jagung diobral Kaldi di salah satu stasiun saat ngabuburit ke kebun binatang. Saya pun mencoba resep dengan bahan disesuaikan ketersediaan bahan lain, dan hasilnya sesuai harapan! mudah, praktis, dan rasanya mirip English Muffin yang dijual di toko! Suami bahkan bilang lebih enak lhooo!


Bahan:

Starter atau biang:

100 ml air hangat
1/2 sdt ragi instant (3 gr)
90 gr tepung protein tinggi
1 sdt gula pasir (5 gr)

Campur semua bahan dan aduk dengan whisk sampai tercampur rata, sedikit berbusa dan licin, diamkan di kulkas selama 1-12 jam kalau menurut resep. Kalau saya langsung saja ke tahap berikutnya.

Bahan adonan:

180 gr tepung protein rendah
180 gr tepung protein tinggi
15 gr gula
1 sdt garam (6 gr)
1 sd ragi instant (6 gr)
16 gr mentega
200 ml air hangat
16 gram susu skim (saya menggunakan susu formula punya si adek)

atau gantikan susu skim dan air dengan 200 ml susu cair

Cara membuat:

1. Campurkan semua bahan kering, termasuk mentega ke dalam mangkuk besar
2. Campurkan susu/air ke dalam biang/starter lalu aduk hingga rata, lalu tuang ke mangkuk bahan kering, aduk dengan spatula.
3. Uleni sekitar 5-10 menit, tidak perlu sampai kalis benar. Bisa menggunakan bread machine tapi sebentar saja, sekitar 2-3 menit.
4. Bentuk adonan menjadi bulatan, taruh dalam mangkuk besar yang sudah diolesi sedikit minyak, tutup dengan plastik cling wrap, simpan di lemari es. Menurut resep bisa sampai 3 hari.
5. Keluarkan adonan, bagi menjadi 16 bagian, bulatkan, lumuri dengan tepung jagung, kembangkan selama 30 menit.

6. Panaskan wajan (saya menggunakan wajan listrik, suhu 180 derajat) yang diolesi mentega, panggang setiap sisi English Muffin hingga kecoklatan (setiap sisi 6 menit) dan matang, lalu dinginkan.
7. Belah dua English Muffin dan isi sesuai selera.
8 English Muffin bisa disimpan di dalam wadah tertutup, belah dua dan hangatkan di oven toaster sebelum disajikan.

Catatan :  Semakin lama biang/starter dan adonan disimpan di lemari es aromanya semakin mantap. Saya membuat adonan sebelum tidur, untuk disajikan besoknya saat sarapan.






Comments

  1. wahh bahan-bahannya gak terlalu banyak juga ya kak, ada cara bikinnya juga, terimakasih..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Youkan atau Dodol Jepang

Homemade Mizuyoukan Saat Ibu saya mengunjungi kami di Tokyo, kegembiraan beliau yang paling terasa adalah menemukan kembali makanan masa kecil. Meskipun Tokyo adalah kota metropolitan yang canggih dan gemerlap, tapi tengoklah pojok makanan tradisional mereka. Jangan kaget jika menemukan teng teng beras, opak, kue mochi, kue semprong, rambut nenek-nenek (harum manis di-sandwich semacam kerupuk renyah), kolontong ketan, gemblong dan banyak lagi. Karena saat itu musim gugur, kesemek membanjiri supermarket, Ibu saya selalu berfoto dengan gunungan buah kesukaannya di masa kecil, yang kini jarang ditemukan di negerinya sendiri. Tapi yang paling beliau sukai adalah, youkan. Beliau menyebutnya dodol. Ada banyak sekali varian youkan, tapi yang beliau sukai adalah shio youkan. Bedanya dengan dodol, kadang ada dodol yang kering, atau dodol yang agak liat. Saya sendiri suka dengan makanan tradisional Jepang, mengingatkan pada camilan kalau mudik ke Tasik saat lebaran. Masalahnya, rata-rata b...

Mak Rempong dan SIM Jepang

Buku-buku materi kursus mengemudi Alkisah, saya seorang Mak Rempong di usia 40-an dengan 3 orang anak (9 tahun, 5 tahun, dan 2 tahun) merengek meminta Me Time ala Mamah Muda kepada suami. Suami menyambut gembira, bersedia menjaga anak-anak di rumah, tapi me time yang ditawarkan adalah kursus mengemudi!

Menyepi di Pusat Ginza

  I  have come a long way. Seharusnya ada banyak tulisan yang mendahului tulisan ini, karena saya terbiasa untuk bercerita runut, semacam OCD dalam kegiatan ngeblog . Tapi tulisan ini tidak bisa menunggu. lorong yang panjang menuju cafe, diambil dari tabelog Akhirnya hari ini saya memasuki lorong itu. Sebuah lorong kecil menuju sebuah cafe yang luas, dalam sebuah gedung menghadap perempatan Ginza yang ramai. Hari Sabtu, Ginza dibebaskan dari kendaraan yang biasaya berlalu-lalang dengan sibuk. Semacam car free day di Jakarta. Dan dari sudut cafe yang menghadap jendela besar ini, saya bisa mengamati tindak tanduk para wisatawan pejalan kaki, yang asik berfoto, berdiri tercenung menatap peta di layar smartphone , atau yang berjalan mantap menuju tempat tujuannya. Mengapa Ginza? Ah, panjang sekali ceritanya. Singkatnya, Pada suatu hari saya terpikir untuk bekerja paruh waktu. Setelah berpuluh tahun berkutat dengan hobi yang melulu di rumah, saya memutuskan...