Tuesday, August 5, 2014

Saat Dijemput Ambulans


gambar diambil dari sini
Saya pernah pingsan saat upacara sekolah, juga saat berdesakan di dalam bis kota, juga di ruangan kuliah di kampus. Pernah juga kliyengan di pusat perbelanjaan saat hamil muda, juga saat hamil tua bahkan setelah melahirkan karena kurang darah. Tapi alhamdulillah, tidak pernah sampai harus dijemput ambulans. Tidak ada diagnosis penyakit yang berat juga, setelah sadar dan segar bugar kembali, yang tersisa hanya rasa malu, kok bisa yah tadi semaput!

Tapi hari ini, akhirnya saya, atau tepatnya kami: saya, kakak dan adek ramai-ramai diangkut ke RS dengan ambulans. Ceritanya karena adek, yang kebetulan sejak 4 hari yang lalu demam, mendadak mengalami gejala yang mirip alergi. Hari masih pagi sekali, suami baru saja berangkat ke kantor. Adek yang ikut terbangun dan ikut sarapan roti dengan sedikit selai kacang tiba-tiba area sekitar mulut mulai memerah dan muncul bentol-bentol, yang lalu menyebar ke mata, telinga, leher dan lipatan sikut.

Keluarga kami tidak punya riwayat alergi, saat periksa ke dokter juga sempat diberi tahu untuk siap-siap jika panas turun mungkin akan keluar bintik merah (突発性発疹 exanthema subitum)tapi karena ingat baru pertama kali ini adek makan selai kacang, saya mulai was was, jangan-jangan ini gejala アナフィラキシーショック Anaphylaxis. Panik takutnya yang membengkak bukan hanya kulit luar, tapi juga saluran pernafasan yang mungkin bisa berakibat kematian.


Sebelum memanggil ambulans, konsultasi dulu!
gambar diambil dari sini
Saya telepon suami, tidak tersambung, sudah pasti di kereta jadi tidak bisa menjawab panggilan. Saya terpikir memanggil ambulans, tapi ragu-ragu mungkin ini bukan kasus gawat darurat. Akhirnya saya putuskan menelpon nomor yang khusus disediakan untuk berkonsultasi butuh tidaknya ambulans. Sebenarnya di dalam buku petunjuk gawat darurat (diterbitkan pemda setempat) ada juga decision tree yang bisa saya cek, tapi saya sudah panik untuk membaca deretan huruf kanji dan alur yang saya tidak mengerti. Setelah menceritakan kondisi adek, saya diminta menunggu karena mereka memutuskan adek harus diangkut dengan ambulans.

Singkat cerita ambulans datang, saya dengan anak-anak naik, adek dicek pernafasan, saya ditanya macam-macam, akhirnya berangkatlah kami ke RS terdekat yang kebetulan tempat adek dilahirkan. Saat keluar dari ambulans, dokter dan perawat yang menyambut kelihatan terkejut karena kok kami santai sekali, padahal mereka sudah siap siaga, termasuk mengenakan apron dan masker plastik. Saya menggendong adek dan menuntun kakak, persis seperti turun dari taksi saja!

"Bukan kondisi gawat darurat! tolong tunjukkan bagian anak", kata petugas yang mendampingi. Cerita berakhir di dokter anak, yang menyarankan saya tes alergi kacang, memberikan resep obat penekan reaksi alergi dan salep untuk mengurangi gatal-gatal. Perasaan lega karena adek tidak mengalami reaksi alergi yang fatal, bercampur dengan rasa malu karena untuk gejala sepele saja harus menggunakan jasa ambulans, yang seharusnya hanya untuk pasien yang benar-benar gawat darurat. Juga tentunya rasa bersalah, jangan-jangan di luar sana ada seseorang yang harus menderita (jangan sampai harus kehilangan nyawa) karena saya menggunakan jasa ambulans yang seharusnya menjadi haknya.

Seperti membaca perasaan saya, petugas yang mendampingi saya di ambulans menghibur. "Tidak apa-apa, Bu. Ibu manapun akan bertindak seperti Ibu. Lagipula, prosedur yang Ibu tempuh sudah benar, menelepon tempat konsultasi dan mereka yang mengirim ambulans untuk menjemput".

Kembali ke rumah dengan naik taksi, perjalanan tak sampai 15 menit yang terasa panjang karena Kakak mabuk muntah beberapa kali. Sementara adik juga rewel karena gatal-gatal dan demam yang mulai naik lagi. "Harusnya pulangnya juga diantar ambulans lagi biar aku gak mabuk!", sempat-sempatnya si Kakak protes!

Tiba di rumah, mengoleskan obat gatal, menggendong adek sampai tidur. Lalu mulai membereskan kamar, manyapu, mencuci piring, memasukkan cucian ke mesin cuci. Setelah semua selesai, saya terduduk dan baru terasa air mata mulai mengembang, lalu deras mengalir. Saya pun tergugu, tak peduli ada Kakak yang terdiam menyaksikan semuanya.

Panik yang berlebihan membuat saya lelah secara emosi, mungkin timbul karena sayalah satu-satunya orang dewasa di rumah, bertanggungjawab sepenuhnya atas (lebay-nya) hidup atau mati anak-anak. Juga rasa bersalah yang berlebihan, karena sadar telah egois mengutamakan pelayanan untuk anak saya, yang mungkin bukan haknya. Sekedar mencari penghiburan, saya mebaca kisah-kisah pertama kali seorang ibu di Jepang menggunakan jasa ambulans untuk anaknya. Ternyata saya tidak sendiri. Ada seorang ibu yang berempati, "pukpuk, dalam kondisi seperti ini lebih baik malu/merasa bersalah 100 kali daripada gagal walaupun satu kali".


Epilog

Lalu bagaimana dengan bapaknya anak-anak? di dalam ambulans petugas ambulans sudah bicara langsung dengannya bahwa kondisi anaknya baik-baik saja, tidak perlu panik tetapi usahakan telepon dikondisikan aktif dan bisa dihubungi. Satu hal yang saya sadar, ternyata selama ini kami benar-benar hanya berbicara di telpon untuk hal-hal penting atau darurat kalau suami saya sedang bekerja. Karena saya tahu ia dituntut untuk profesional dan penuh dedikasi dalam bekerja. Begitu pula dengan saya yang berada di rumah, mendukungnya, dengan penuh dedikasi mengerjakan urusan rumah tangga, ketika saya sendiri sakit sekalipun. Selain memang karena tidak bisa merepotkan tetangga, orangtua, apalagi mertua ding....


No comments:

Post a Comment