Skip to main content

Posts

Menjahit Perlengkapan TK

Foto tas dan kantung bekal yang harus disiapkan gambar diambil dari  sini Insya Allah mulai 10 April si Aa mulai masuk TK. Sudah tradisi di Jepang untuk para ibu menjahitkan tas dan kantung bekal untuk dipakai anak-anak saat mulai masuk TK. TK si Aa menentukan model dan ukuran tas yang harus dibuat. Pengalaman sewaktu persiapan TK si Kakak, saya yang seumur hidup tidak pernah menjahit menggunakan mesin jahit, terpaksa membeli mesin jahit yang paling murah dan paling sederhana. Juga membeli buku petunjuk pembuatan tas sekolah di toko buku bekas. Ternyata sudah musimnya saat memasuki musim semi toko craft mulai memajang motif-motif kain lucu, model tas yang imut-imut, juga paket kain dan aksesoris lengkap dengan petunjuk pembuatan tas. Begitu pula toko buku memajang buku-buku petunjuk pembuatan tas untuk TK. Awalnya saya sangat patuh mengikuti peraturan ukuran tas dari TK, tapi ternyata tidak terlalu ketat, kecuali untuk tas sepatu indoor yang harus muat dua pasang sepatu. ...

Congklak Dua Generasi

Masa kecil saya sebagian besar dihabiskan di kampung, dimana sekeliling rumah saya adalah saudara dari pihak ibu. Hampir semua anak-anak sekitar rumah adalah sepupu, dan biasanya kami bermain bersama. Banyak sekali permainan yang seru, tapi yang paling saya ingat adalah bermain bola bekel dan congklak. Kedua permainan yang tetap bisa seru meskipun dimainkan berdua saja dengan seorang sepupu perempuan, saat sepupu-sepupu kami yang laki-laki sudah mulai malas mengikutkan kami "anak bawang" dalam permainan mereka.

Saat Usia 40 tahun Ibu jadi Apa?

Obrolan saat saya sedang menyiapkan makan malam, suami dan anak-anak membaca buku di meja makan: Kakak : Ooh jadi pekerjaan ayah itu profesor universitas ya? Ayah  : Bukan, Ayah cuma dosen. Biasanya pertama kali masuk jadi dosen dulu, nanti jadi Associate Professor, baru terakhir jadi Professor. Kakak : Iya, disini ditulis nanti umur 40 tahun Ayah jadi Professor. Ayah : Masih lama, 5 tahun lagi, lagipula banyak persyaratan lain supaya bisa jadi Professor. Kakak : Kalau begitu duluan Ibu dong yang jadi Professor, sekarang kan udah 38 tahun! (mata berbinar) Ibu : (langsung nimbrung) Ibu mah usia 40 tahun juga gak bisa jadi professor! Kakak : (kecewa) Kenapa? terus kalau gak jadi professor jadi apa? Ibu : Karena Ibu bukan dosen universitas. Usia 40 tahun Ibu ya tetap jadi Ibu, gak punya pekerjaan.

Bahasa Ibu atau Bahasa Anak?

Kegelisahan terbesar saya sebagai ibu adalah perbedaan latar belakang keluarga yang sangat jauh dengan anak-anak saya. Memang seperti kata-kata bijak, anak-anak adalah anak panah dan orangtua adalah busurnya, anak-anak adalah milik zamannya masing-masing.

Me Time-ku Kini Tidak Sendiri Lagi

minum teh dengan Kakak saat adik-adik tidur siang Saya mendengar kata "me time" saat saya membaca buku atau artikel tentang ibu yang mengalami maternity blues, yang selama 24 jam terus menerus merawat bayi yang baru lahir sehingga ibu tidak sempat melepas penat dan rasa lelah.

ママは働いたらもっとスゴイぞ!Kalau Ibu juga bekerja tentu lebih hebat!

Buku terbitan 2007 dtulis oleh 和田清華 (Sayaka Wada) yang memang motivator, jadi sebagian besar pesan2-pesanya tidak terlalu baru. Mungkin karena beliau juga seorang ibu dengan 2 anak, tulisannya terasa lebih tepat sasaran. Sambil baca buku ini saya jadi secara tidak sadar menyamakan penulisnya dengan aktivis ibu bekerja 勝間和代 (Kazuyo Katsuma). Tapi belakangan ibu ini sering banget ngomong di TV...ketimbang aktivis mungkin lebih cocok dibilang celebritis ya. Kazuyo Katsuma pernah bilang kalo para ibu yang mengambil cuti setelah melahirkan (育児休業中), biasanya selama setahun, mereka sering merasa khawatir setelah vakum sekian lama pas nanti kembali ke tempat kerja gak akan bisa berkinerja seperti sebelumnya. Nah, blio bilang, ibu yang cuti itu seperti seorang pitcher baseball ternama (saya lupa namanya) yang kalau tidak sedang bertanding atau berlatih, tangannya harus dibebat dan tak banyak digunakan. Begitu bebat dibuka, maka tenaga yang ke...

「さみしいママ」にさよなら, Sayonara Ibu yang Kesepian!

Memang buku ini umurnya sudah tua, diterbitkan pertama kali tahun 1997, tapi curhatan2 para ibu di dalamnya masih familiar. Kesimpulannya, proses menjadi ibu yang bahagia hari ini mungkin hampir sama dengan para ibu generasi 10 tahun lalu. Buku ini berisi 6 bab yang masing2 diawali dengan curhatan2 para ibu yang merasa kesepian lengkap dengan keluhan2nya masing2. Tentu saja ibu kesepian disini tidak identik dengan ibu rumah tangga, banyak juga curhatan ibu bekerja yang merasa kesepian karena merasa mendidik anak hanyalah tanggung jawab yang harus dipikul sendirian oleh seorang ibu. Kemudian dipaparkan statistik hasil survey mengenai topik yang dibahas pada bab tersebut, dan diakhiri dengan ulasan dan saran dari senpai mama atau dari konselor. Dari bab 1 sampe bab 5 berturut2 dibahas mengenai rasa sepi karena hanya menjalani peran sebagai seorang ibu, merasa sepi walaupun selalu bersama suami, merasa sepi karena merasa terputus dari dunia luar, menjadi rendah diri k...