Skip to main content

Menjahit Perlengkapan TK

Foto tas dan kantung bekal yang harus disiapkan
gambar diambil dari sini
Insya Allah mulai 10 April si Aa mulai masuk TK. Sudah tradisi di Jepang untuk para ibu menjahitkan tas dan kantung bekal untuk dipakai anak-anak saat mulai masuk TK. TK si Aa menentukan model dan ukuran tas yang harus dibuat. Pengalaman sewaktu persiapan TK si Kakak, saya yang seumur hidup tidak pernah menjahit menggunakan mesin jahit, terpaksa membeli mesin jahit yang paling murah dan paling sederhana. Juga membeli buku petunjuk pembuatan tas sekolah di toko buku bekas. Ternyata sudah musimnya saat memasuki musim semi toko craft mulai memajang motif-motif kain lucu, model tas yang imut-imut, juga paket kain dan aksesoris lengkap dengan petunjuk pembuatan tas. Begitu pula toko buku memajang buku-buku petunjuk pembuatan tas untuk TK. Awalnya saya sangat patuh mengikuti peraturan ukuran tas dari TK, tapi ternyata tidak terlalu ketat, kecuali untuk tas sepatu indoor yang harus muat dua pasang sepatu. Saya akhirnya memutuskan membuat tas dengan ukuran lebih besar, sehingga bisa dipakai terus sampai kelak lulus SD.


Foto hasil jahitan pertama saya sewaktu membuat perlengkapan TK si Kakak dipejeng disini.


Untuk tas-tas sekolah, saya membuat 2 tas jinjing, satu tas ransel sederhana untuk baju ganti, dan satu tas sepatu indoor. Setelah jadi, ternyata tas jinjing berubah jadi tas seret karena terlalu besar. Akhirnya saya terpaksa menjahitkan satu tas jinjing kecil sesuai ukuran dari TK, juga tas sepatu indoor kecil, minimal untuk dipakai selama tahun pertama. Berikut foto-foto proses jahit-menjahit tas dan kantung bekal.


Surat instruksi dari TK, buku petunjuk membuat tas sekola,
kain dan bahan-bahan perlengkapan yang sudah disiapkan sejak sebulan lalu

Kelar membuat tas jinjing dan tas baju ganti, bahan quilt

Tas jinjing ukuran besar, lebar 50 cm lhoo!

Tas sepatu indoor versi imut-imut

tas jinjing dengan ukuran sesuai instruksi TK

Kantung bentou, kantung cangkir, 2 lembar luncheon mat reversible
dan dompet alat makan untuk membawa sumpit, sendok dan garpu

Rasanya lega sekali, sekarang tinggal menyiapkan perangkat kecil-kecil seperti menamai alat tulis, baju seragam dan peralatan makan. 



Comments

  1. aduh keren2 banget, juga warnanya soft , bikin mupeng

    ReplyDelete
    Replies
    1. thank you mak, warnanya milih yang putih biar kotor dikit langsung dicuci :)

      Delete
  2. Ya ampun, lucunyaaa. Kalo ibunya ngga mau ngejahitin gmn Mak? Beli jadi aja bolehkah? Sampe bela-belain beli mesin jahit dan belajar jahit, keren banget. Hasilnya juga kece-kece bangeeet. Udah pernah sharing tutorialnya Mak? Mau dong tutorialnyaaa. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you :) tentu ada yang paket bisa beli cuma ukurannya beda, dan tentu lebih mahal. Bisa pesan juga di toko kainnya. Kadang ada kursusnya juga di toko kain. Belum pernah, Insya Allah mudah-mudahan ada waktunya. Kalau pola banyak yang gratis di Internet tinggal di terjemahkan aja :)

      Delete
  3. Aku nggak bisa jahit sama skali, mbaa. Hihii. Seru ya dan baru tahu kalau di Jepang ada tradisi seperti ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Coba deh Mak, pasti bisa. Karena saya aja bisa pasti siapa aja bisa. Sekarang mesin jahit jauh lebih sederhana dan bisa dipakai siapa saja

      Delete
  4. Asyik juga yah Mbak, sekalian mengajarkan para ibu dari anak TK untuk lebih kreatif :)

    suka sama tas-tasnya, lucu-lucu :)

    ReplyDelete
  5. wah..mau sepatu putihnya..imut banget..sih... tas-tasnya unik..

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Youkan atau Dodol Jepang

Homemade Mizuyoukan Saat Ibu saya mengunjungi kami di Tokyo, kegembiraan beliau yang paling terasa adalah menemukan kembali makanan masa kecil. Meskipun Tokyo adalah kota metropolitan yang canggih dan gemerlap, tapi tengoklah pojok makanan tradisional mereka. Jangan kaget jika menemukan teng teng beras, opak, kue mochi, kue semprong, rambut nenek-nenek (harum manis di-sandwich semacam kerupuk renyah), kolontong ketan, gemblong dan banyak lagi. Karena saat itu musim gugur, kesemek membanjiri supermarket, Ibu saya selalu berfoto dengan gunungan buah kesukaannya di masa kecil, yang kini jarang ditemukan di negerinya sendiri. Tapi yang paling beliau sukai adalah, youkan. Beliau menyebutnya dodol. Ada banyak sekali varian youkan, tapi yang beliau sukai adalah shio youkan. Bedanya dengan dodol, kadang ada dodol yang kering, atau dodol yang agak liat. Saya sendiri suka dengan makanan tradisional Jepang, mengingatkan pada camilan kalau mudik ke Tasik saat lebaran. Masalahnya, rata-rata b...

Mak Rempong dan SIM Jepang

Buku-buku materi kursus mengemudi Alkisah, saya seorang Mak Rempong di usia 40-an dengan 3 orang anak (9 tahun, 5 tahun, dan 2 tahun) merengek meminta Me Time ala Mamah Muda kepada suami. Suami menyambut gembira, bersedia menjaga anak-anak di rumah, tapi me time yang ditawarkan adalah kursus mengemudi!

Menyepi di Pusat Ginza

  I  have come a long way. Seharusnya ada banyak tulisan yang mendahului tulisan ini, karena saya terbiasa untuk bercerita runut, semacam OCD dalam kegiatan ngeblog . Tapi tulisan ini tidak bisa menunggu. lorong yang panjang menuju cafe, diambil dari tabelog Akhirnya hari ini saya memasuki lorong itu. Sebuah lorong kecil menuju sebuah cafe yang luas, dalam sebuah gedung menghadap perempatan Ginza yang ramai. Hari Sabtu, Ginza dibebaskan dari kendaraan yang biasaya berlalu-lalang dengan sibuk. Semacam car free day di Jakarta. Dan dari sudut cafe yang menghadap jendela besar ini, saya bisa mengamati tindak tanduk para wisatawan pejalan kaki, yang asik berfoto, berdiri tercenung menatap peta di layar smartphone , atau yang berjalan mantap menuju tempat tujuannya. Mengapa Ginza? Ah, panjang sekali ceritanya. Singkatnya, Pada suatu hari saya terpikir untuk bekerja paruh waktu. Setelah berpuluh tahun berkutat dengan hobi yang melulu di rumah, saya memutuskan...