Skip to main content

Finally got Kikotowa at Kinokuniya Shinjuku

Watched the news about this year Akutagawa Prize winner; both male and female writers for the writer prize and new comer writer. First read Akutagawa Prize winner writer's book when I was in college (in english translation) and the impression was that the prize must really go to good writers even a foreigner could enjoy the story (though I didnt read Japanese writers works at that time).

In the news, 26 year old Mariko Asabuki as the winner of the new comer writer talked about her prize winning book. "No message whatsoever, only for immersing ourselves in the beauty of words". The judges explained why the book won the prize, "the back and forth plot and the choice of words...difficult book".

I didnt know if being difficult (to understand) is a good point for a book, for winning the Akutagawa Prize. So just for curiosity I wanted to get the book.

Had to be disappointed coz the book was already out of print. I was about to forget this book but found it in Kinokuniya today (not the Big Kinokuniya in Takashimaya though).

First scanned the book and found it was written almost in hiragana, so I thought it was not going to be too difficult to read.

Then read few pages and realized I didnt understand most of what I read. I found that by changing kanji character to hiragana is one minor tool for the writer to make the story difficult to understand.

I also found the type of Japanese verbs I hate the most are being used here and there; two verbes joined together for making new verbs...I always dont know the meaning of those type of words!

Conclusion:

 the book was a too bold purchase (trial) for a beginner in Japanese Literary ;p

but anyway, I will try.

 

image is taken without permission from amazon.co.jp

wikipedia on Akutagawa Prize here

Mariko Asabuki featured in High Fashion online here

Comments

  1. čŖ­ć‚“恧ćæ恟恠恑恧悂ē“ ę™“悉恗恄ćØę€ć„ć¾ć™ć‚ˆ^_^

    ReplyDelete
  2. 恓恮ć‚Øćƒ³ćƒˆćƒŖćƒ¼ć‚’ę›øć„ćŸå¾ŒćŖ悓恠恋č‡Ŗ分ćÆę ¼å„½ć‚’ä»˜ć‘ć¦ćæ恟恄恠恑恘悃ćŖ恄恋ćØę„Ÿć˜ć¦ć€ć”ć‚‡ć£ćØę°—ęŒć”ę‚Ŗ恄怀ļ¼šļ¼ˆ

    ć§ć‚‚ć€ć‚„ć£ć±ć‚ŠčŖ­ć‚“恧ćæ恟恄态恂悊恌ćØ恆怀ļ¼šļ¼‰

    ReplyDelete
  3. 恝悓ćŖ恓ćØē„”恄ćØę€ć„ć¾ć™ć‚ˆļ¼¾ļ¼æļ¼¾
    dulu(pas masih gakusei) juga aku pernah nyoba baca novel jepang yang pemenang akutagawasho tapi yappari masih kurang nyambung haha....
    trus sampe sekarang ngga pernah baca buku bahasa jepang kecuali buku pelajaran atau bahan-bahan yang berhubungan dengan kerjaan (payaaah....)

    ReplyDelete
  4. karena aku gak punya kerjaan kali ya Mbak Mei...jadinya baca novel mulu ;p

    ReplyDelete
  5. haha... jelas-jelas aku juga himajin desu yo^_^ paling baca novel yang ngga pake tulisan kriting

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Youkan atau Dodol Jepang

Homemade Mizuyoukan Saat Ibu saya mengunjungi kami di Tokyo, kegembiraan beliau yang paling terasa adalah menemukan kembali makanan masa kecil. Meskipun Tokyo adalah kota metropolitan yang canggih dan gemerlap, tapi tengoklah pojok makanan tradisional mereka. Jangan kaget jika menemukan teng teng beras, opak, kue mochi, kue semprong, rambut nenek-nenek (harum manis di-sandwich semacam kerupuk renyah), kolontong ketan, gemblong dan banyak lagi. Karena saat itu musim gugur, kesemek membanjiri supermarket, Ibu saya selalu berfoto dengan gunungan buah kesukaannya di masa kecil, yang kini jarang ditemukan di negerinya sendiri. Tapi yang paling beliau sukai adalah, youkan. Beliau menyebutnya dodol. Ada banyak sekali varian youkan, tapi yang beliau sukai adalah shio youkan. Bedanya dengan dodol, kadang ada dodol yang kering, atau dodol yang agak liat. Saya sendiri suka dengan makanan tradisional Jepang, mengingatkan pada camilan kalau mudik ke Tasik saat lebaran. Masalahnya, rata-rata b...

Mak Rempong dan SIM Jepang

Buku-buku materi kursus mengemudi Alkisah, saya seorang Mak Rempong di usia 40-an dengan 3 orang anak (9 tahun, 5 tahun, dan 2 tahun) merengek meminta Me Time ala Mamah Muda kepada suami. Suami menyambut gembira, bersedia menjaga anak-anak di rumah, tapi me time yang ditawarkan adalah kursus mengemudi!

Menyepi di Pusat Ginza

  I  have come a long way. Seharusnya ada banyak tulisan yang mendahului tulisan ini, karena saya terbiasa untuk bercerita runut, semacam OCD dalam kegiatan ngeblog . Tapi tulisan ini tidak bisa menunggu. lorong yang panjang menuju cafe, diambil dari tabelog Akhirnya hari ini saya memasuki lorong itu. Sebuah lorong kecil menuju sebuah cafe yang luas, dalam sebuah gedung menghadap perempatan Ginza yang ramai. Hari Sabtu, Ginza dibebaskan dari kendaraan yang biasaya berlalu-lalang dengan sibuk. Semacam car free day di Jakarta. Dan dari sudut cafe yang menghadap jendela besar ini, saya bisa mengamati tindak tanduk para wisatawan pejalan kaki, yang asik berfoto, berdiri tercenung menatap peta di layar smartphone , atau yang berjalan mantap menuju tempat tujuannya. Mengapa Ginza? Ah, panjang sekali ceritanya. Singkatnya, Pada suatu hari saya terpikir untuk bekerja paruh waktu. Setelah berpuluh tahun berkutat dengan hobi yang melulu di rumah, saya memutuskan...