Friday, December 18, 2015

「さみしいママ」にさよなら, Sayonara Ibu yang Kesepian!


Memang buku ini umurnya sudah tua, diterbitkan pertama kali tahun 1997, tapi curhatan2 para ibu di dalamnya masih familiar. Kesimpulannya, proses menjadi ibu yang bahagia hari ini mungkin hampir sama dengan para ibu generasi 10 tahun lalu.
Buku ini berisi 6 bab yang masing2 diawali dengan curhatan2 para ibu yang merasa kesepian lengkap dengan keluhan2nya masing2. Tentu saja ibu kesepian disini tidak identik dengan ibu rumah tangga, banyak juga curhatan ibu bekerja yang merasa kesepian karena merasa mendidik anak hanyalah tanggung jawab yang harus dipikul sendirian oleh seorang ibu. Kemudian dipaparkan statistik hasil survey mengenai topik yang dibahas pada bab tersebut, dan diakhiri dengan ulasan dan saran dari senpai mama atau dari konselor.

Dari bab 1 sampe bab 5 berturut2 dibahas mengenai rasa sepi karena hanya menjalani peran sebagai seorang ibu, merasa sepi walaupun selalu bersama suami, merasa sepi karena merasa terputus dari dunia luar, menjadi rendah diri karena merasa "saya kok emak2 banget ya?", dan merasa sendirian karena tidak lagi punya teman sejati. Terakhir di Bab 6 dibahas juga curhat dari para ayah, pemaparan data hasil survey terhadap para suami dan saran konselor khusus untuk para ayah.

Di bab kedua dan bab terakhir terselip penilaian terhadap pasangan masing-masing, sebagai ibu/ayah, sebagai istri/suami, dan sebagai wanita/pria. Saya baca berdua suami dan asli jadi ketawa ketiwi. Soalnya lucu-lucu deh alesan penilaiannya. Misalnya ada seorang ibu yang memberi nilai 100 karena suaminya adalah suami siaga dan ayah yang pandai merawat anak, tapi saking pandainya sampai sampai jadi gak berasa kalau si suami itu seorang laki2, akhirnya bukannya ngasih nilai malah ngasih tanda tanya! Ada juga seorang suami yang memberi nilai minus 30 buat istrinya yang terlalu sibuk mengurus anak dan tampil sebagai wanita yang menarik tapi lupa mengurus suaminya. Ada juga siy yang memberi nilai 100 bagi pasangannya untuk semua peran, jadinya saya dan suami sampai bengong, ih ini mah nilai bonus, mosok ada yang sesempurna itu?

Di bagian saran dari konselor, banyak hal yang bikin saya jadi ngeh. Memang menjadi ibu pertama kali benar-benar membawa perubahan besar. Banyak kesulitan yang kalau kita jadikan bahan curhat, paling tanggapannya klise, ya dinikmati ajah! Di buku ini, kesulitan-kesulitan itu dikuliti satu persatu, bahkan kadang2 saya berasa jadi dimarah2in sama sang konselor, karena ternyata sebagian besar kesulitan2 yang saya rasakan itu bersumber dari pemahaman saya sendiri yang ternyata salah kaprah.

Dari saran2 konselor di buku ini, saya mendapat beberapa catatan penting (bersumber dari omelan2 yang saya maksud diatas). Misalnya, perasaan  terputus dari dunia luar. Di buku ini dipakai kata2 社会からの疎外感 atau "perasaan terasing dari masyarakat". Sang konselor menanyakan apa siy sebenarnya arti kata 社会 atau masyarakat itu? kalau dari curhatan para ibu, definisi kata masyarakat sudah melenceng jauh dari definisi yang tertulis di kamus bahasa. Seakan2 masyarakat itu berarti sebuah panggung dimana kita ingin berdiri tepat ditengahnya, selalu bermandikan cahaya yang disorotkan spotlight. Padahal seandainya masyarakat itu sebuah panggung dengan para pelakon utama mereka yang berusia produktif dan punya pekerjaan penting, maka para ibu yang mengurus bayi dan anak2, juga mereka yang mengurus para lansia, memiliki peran yang sama pentingnya walaupun berdiri di belakang layar. Mereka menyiapkan generasi baru yang akan berperan penting di masa datang, dan merawat para lansia yang sudah berjibaku di masa lalu.

Tentang perasaan minder karena sudah jadi emak2, menurut sang konselor, justru perubahan menjadi emak-emak itulah perubahan yang alamiah sesuai dengan realitas hukum alam. Kalau setelah melahirkan seorang ibu malah sibuk berdiet dan terapi ini itu supaya tubuhnya bisa kembali seperti ketika masih gadis, kok seperti pengidap penyakit Peter Pan Syndrome...alias maunya tampil muda terus...gak mau keliatan tua (alias tidak mau tampil sesuai umurnya hehehe). Justru menjadi ibu (dengan badan proporsi emak-emak) kita mendapat tiket untuk tampil sebagai wanita yang matang dan diperlakukan sebagai wanita dewasa. Cieeee....sayang diujungnya blio menambahkan, lebih baik pikirkan bagaimana caranya mengembangkan diri supaya di usia 50 tahun pun kecantikan pribadi anda bisa terpancar keluar. Nah lho...

Juga mengenai rasa sepi karena tidak punya teman sejati. Sang konselor malah balik bertanya pada para ibu, apakah sudah lulus dari pola pertemanan remaja...keinginan berteman selayaknya jaman masih duduk di bangku esempe hehehe. Kesana kemari ketawa ketiwi...membahas hal2 kecil yang belum tentu bermanfaat dengan alasan menikmati hidup. Orang yang sudah berkeluarga itu ibarat orang bermobil dan berkendara bersama di jalan raya. Tentu berteman dengan sesama ibu lebih memiliki banyak manfaat, misalnya bisa berkonsultasi tentang perkembangan anak dan masalah parenting. Kalau merasa pertemanan seperti ini bukan pertemanan sejati karena merasa ada jarak, justru kita harus sadar, menjaga jarak itu penting...merasa sungkan untuk terlalu dekat itu perlu, lihat mobil di jalan raya, kalau tidak disiplin menjaga jarak risiko terjadinya kecelakaan lalin kan makin tinggi. Hm...iya juga yah.

Tapi masih ada yang kurang juga siy, menurut saya. Misalnya di bab pertama tentang merasa sepi karena hanya berperan sebagai ibu. Sang konselor menyadarkan bahwa dalam mendidik anak...secara tidak langsung juga seorang ibu mengembangkan dirinya sendiri. Justru tanpa ada keharusan untuk memikirkan hal lain, misalnya pekerjaan kantor, kita jadi fokus memikirkan tujuan hidup kita, menetapkan target yang ingin dicapai ketika misalnya anak sudah lebih mandiri dan tidak lagi bergantung pada orang tuanya. Saya setuju sekali, saya sendiri benar-benar menikmati memilih tema buku-buku yang kepingin saya baca...belajar hal2 baru yang mungkin kalo sambil kerja kantoran mah gak sempet. Cuma satu hal yang saya merasa kurang, saya ingin juga mandiri secara ekonomi. Yah...gitu deh...saya emang serakah dan tidak mudah puas!.

Ganjelan lainnya adalah, kesan bahwa variabel-variable penyebab rasa kesepian itu semuanya berada dalam kendali para ibu. Sebagian besar iya, tapi tidak semuanya. Misalnya, memang dari sisi suami sendiri kurang ada inisiatif untuk berperan lebih aktif sebagai orang tua. Atau ada juga beberapa curhatan yang inti permasalahannya adalah ikut campurnya orang tua atau mertua/ipar, juga kondisi pekerjaan suami yang jam kerjanya tidak umum atau sering berpindah2. Yah...ngerti juga siy...wong yang dibaca cuma satu buku mosok mau "semuanya deh ada disini!" (hayooo ada yang inget ini dari iklan produk apa?)

4 comments:

  1. Hmmm, beberapa di antaranya cukup jujur dan telak ya Teh, tapi dari situ pembaca diajak berbenah...

    ReplyDelete
  2. iya mbak...mungkin karena curhatannya juga hiperbola...misalnya merasa mertuanya aja keliatan lebih muda dari dia he3..

    ReplyDelete
  3. menarik, saya jadi banyak belajar.
    btw, mbak nyai ga minat jadi penerjemah?
    kalo buku2 kayak gini diterjemahin dan terbit di sini, saya mau banget beli.

    ReplyDelete
  4. hehehe..alhamdulillah bermanfaat...percaya gak siy jaman saya kuliah dulu aja saya udah beli buku2 petunjuk untuk belajar jadi penerjemah...tapi ya tentu saja saya gak berani...belum cukup kualifikasinya kali yaaa...

    ReplyDelete