Friday, April 5, 2013

Rukun Iman


Sulit sekali buat saya untuk menemukan momen2 tepat menjelaskan tentang rukun iman atau rukun islam ke Raika yang masih  sudah berusia 4 tahun. Sebenarnya ada beberapa kegiatan belajar agama buat anak2, sayang sekali sepertinya kurang cocok buat Raika yang susah duduk diam mendengarkan pelajaran dari bu Guru. Jangankan ibu guru, saya sendiri ibunya rasanya susah sekali untuk membuatnya berkonsentrasi pada hal2 baru yang tidak begitu menarik perhatiannya.
 
Tapi beberapa waktu lalu ada dialog menarik yang membuat saya tersadar, bahwa sedikit banyak Raika sudah mengerti mengenai Tuhan dan ajaran agama dalam hidup sehari2. Waktu itu saya dan Raika sedang membaca majalah bulanan dari TK, tentang cerita pendekar kerdil Isshun boshi melawan raksasa Oni. Di awal cerita, sepasang suami istri yang sudah tua berdoa, Ya Tuhan...karuniakanlah seorang anak kepada kami. Seperti biasa saya suka sambil ngobrol nambah2in kalo lagi bacain buku;
 
Ibu : "Kalo Raika berdoa juga sama Tuhan ya, siapa Tuhan Raika?"
Raika : "Allah".
Ibu : (agak kaget...ternyata Raika tau ya he3) "Darimana Raika tau tentang Allah?"
Raika : "Kan Ibu ngasih tau".
Ibu : (kanget banget...oh ya?)
Ibu : "Kalo ibu tau dari siapa? Ibu tau dari nenek. Tapi orang yang paling pertama tau tentang Allah itu ada lho...Nabi dan Rasul". (Wah...kesempatan...langsung ngeluarin buku kisah nabi2).
 
Sayang setelah itu Raika gak minat. Raika paling tidak suka membaca buku2 kisah nabi dan rasul, karena gambar2 yang menyeramkan dan kisah yang panjang dan temanya kan lumayan sulit.
 
Sejak dialog itu saya jadi rajin mengingat2 dialog2 semacam ini. Misalnya saat menonton serial anime Sazae-san (kental sekali dengan budaya Jepang). Pas episode Haka mairi or ziarah ke makam leluhur;
 
Ibu : "Ah iya, Raika kan juga pernah ya pergi ke makam bapak Aki di Bogor"
Raika : mengangguk sambil mengingat2 "iya...sama Aa Dzaki ya"
Ibu : "iya...di makam itu di dalamnya ada badan bapak Aki...karena sudah meninggal"
Raika : tampak sedih "kasian bapak Aki...sendirian di dalam tanah"
Ibu : "enggak begitu Raika, yang sendirian di dalam tanah itu cuma badannya bapak Aki aja...bapak Aki yang sebenarnya ada di tempat lain yang disiapkan Allah. Kalau kita sakit terus meninggal, badan kita ditaruh di makam, tapi ruh kita diajak ke tempat lain sama Allah"
Raika : (tampak bingung he3)
 
Dialognya berhenti disitu, cukup sulit mungkin buat Raika untuk mengerti ruh. Beberapa hari kemudian, kebetulan Raika memilih satu kamishibai untuk dipinjam dari perpustakaan (seperti buku cerita tapi cuma gambar saja, ceritanya tertulis di halaman belakang gambar untuk dibacakan. Jadi murni anak hanya melihat gambar dan berkonsentrasi mendengar yang membacakan) tentang anak beruang yang diledek temannya. Si anak beruang dikatai terbuat dari pipis, karena yang keluar dari tubuhnya itu cuma pipis. Lalu si anak beruang itu pada akhirnya menemukan bantahan, bahwa bukan hanya air pipis yang keluar dari tubuhnya, tapi juga darah, keringat dan air mata. Bukan hanya itu saja, tapi juga perasaan sakit, sedih, marah dan lain2. Lalu si anak beruang bilang, "aku bukan terbuat dari air pipis, tapi aku terbuat dari AKU!". Dan tampaklah gambar di bawah ini.

 
 
 
Langsung aja saya nambahin, "nah Raika, ini yang ibu maksud RUH...yang merasakan kesedihan, kemarahan, kebahagiaan dan lain2".
 
Ternyata, dengan menggunakan buku2 (walaupun bukan yang cerita islami dan cuma berbahasa Jepang) dan kesempatan2 kecil yang ada pun seharusnya saya bisa membantu Raika untuk berpikir saat dia dewasa kelak, untuk membantunya menjawab pertanyaan2 besar seperti "dari mana aku berasal?" "kemana aku akan kembali pulang?" dan "untuk apa aku hidup?". Semoga Allah memudahkan, amiiin.

No comments:

Post a Comment