Saturday, March 7, 2015

Saya dan Homeschooling (bagian 1): Classical Education

Ketika Kakak menginjak usia 2 tahun, saya (baru) mulai mempelajari pola pendidikan anak usia dini. Mulai membaca-baca plus minus  pendidikan (terlalu) dini, pilihan untuk homeschooling atau schooling, juga masalah pendidikan anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga bilingual bahkan trilingual. Tapi berhubung kurang networking, kurang (tepatnya malas) bergaul, akhirnya saya hanya mengandalkan pencarian di internet.

Upaya pencarian ini sempat saya dokumentasikan di blog lama multiply. Memang pendidikan usia dini di Jepang tergolong bisnis besar. Bahkan si Kakak dari usia 1 tahun sudah rutin mendapat kiriman paket sample pendidikan usia dini di rumah dari suatu perusahaan, yang saya tidak pernah mendaftarkan diri. Kemungkinan perusahaan-perusahaan Jepang ini mencari informasi pribadi setiap orang melalu channel tertentu untuk secara bombastis memasarkan produk mereka. Khusus kasus saya, kemungkinan bisa melalu rumah sakit atau jidoukan (tempat bermain gratis fasilitas pemda). Saya menggunakan sample-sample tersebut dan Kakak cukup menikmatinya. Tapi saya tidak tergoda untuk ikutan, karena alasan klise, mahal!

Sedangkan untuk pilihan homeschooling atau schooling, kami sempat mempelajari kurikulum homeschooling, terutama kami tertarik pada Classical Education (sumber informasi dari The Well-trained Mind ) dan Charlotte Mason (sumber informasi dari Ambleside Online). Walaupun akhirnya kami sepakat memutuskan untuk schooling, tapi informasi yang kami dapatkan dari kedua metode ini merupakan masukan yang sangat berharga, dan sedapat mungkin kami praktikan sesuai kemampuan dan sumber daya yang tersedia.

Classical Education

Mungkin saya terdengar menyederhanakan pemahaman tentang kedua metode homeschooling  ini, karena baru sebatas inilah kemampuan yang saya miliki saat ini. Dari metode classical education  kami menangkap pentingnya membangun kemampuan bahasa dan pemahaman sejarah semenjak dini. Juga rekomendasi classical education  untuk menggunakan metode belajar membaca menggunakan bunyi/pelafalan atau phonetics, dibandingkan metode lain. Saya juga lega karena classical education menekankan "toleransi" pembelajaran awal adalah melalui memorization atau menghafal pada tahap-tahap awal, sebelum keterampilan anak untuk berpikir logis dan analitis cukup ajeg.

Langkah pertama yang kami lakukan sebelum anak-anak diajari membaca adalah, membaca buku bersama. Saya membacakan buku dengan bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan Jepang tanpa dipilih-pilih, kebanyakan buku-buku gratis pinjam dari perpustakaan, buku bacaan masa kecil suami yang masih tersimpan baik, juga pemberian dan oleh-oleh teman. Aturan yang kami pakai cuma satu (eh dua ding!), sesuai umur dan anak suka. Cara membacakan buku saya ikuti dari laman Reading is Fundamental. Saat Kakak lahir, saya masih terlalu gagap dengan urusan perawatan bayi sehari-hari jadi boro-boro keburu memilih metode membaca buku, hanya sekedar membacakan dongeng sebelum tidur. Sementara ketika Adek lahir dan saya sudah terbiasa (cieeeeee!) merawat bayi, sehingga bisa lebih fokus pada menciptakan suasana membaca bersama yang lebih menyenangkan sesuai tutunan video dari website diatas, dan ternyata sukses membuat Adek senang sekali membaca buku, bahkan buku-buku bermutu rekomendasian yang oleh Kakak ditolak mentah-mentah.

Classical Education memiliki daftar buku-buku rekomendasi sendiri, termasuk buku untuk mengajarkan membaca. Tapi karena berbagai keterbatasan, kami tidak dapat menggunakan buku-buku rekomendasian tersebut. Saya mulai mengajarkan membaca, pertama kali ejaan bahasa Indonesa menggunakan buku ringan, belajar membaca dalam 30 menit (pernah saya singgung sedikit disini ). Sementara untuk membaca bahasa Inggris saya menggunakan buku Teach your child to read in 100 easy lessons yang kira-kira sesuai dengan rekomendasi classical education yaitu scripted (saya tidak menggunakan kata-kata sendiri tapi verbatim sesuai apa yang tercetak di buku) dan menggunakan metode phonic reading. Kegiatan belajar membaca pun baru saya mulai ketika Kakak tepat berusia 5 tahun (rekomendasinya 4 tahun), berdasarkan birthday resolution yang kami sepakati. Kini selain membaca huruf katakana dan hiragana, Kakak sudah bisa membaca ejaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, minimal untuk modal awalnya membaca sendiri kelak.

Untuk pemahaman sejarah, saya menemukan banyak kesulitan. Terlebih karena saya sendiri tidak cukup belajar sejarah, dan kini masih berusaha mengejar ketinggalan saya. Dari hasil mengintip kurikulum sekolah Jepang, saya jadi sadar mereka benar-benar menekankan pentingnya belajar sejarah dan memiliki buku-buku yang sangat bagus. Kini saya sedang berusaha membaca buku paket pelajaran sejarah untuk SMA Jepang, termasuk seri komiknya (padahal saya benciiiii komik!). Sementara ini, referensi untuk bicara sejarah dengan Kakak masih menggunakan buku sejarah dunia untuk anak-anak terbitan Oxford. Bersambung.





6 comments:

  1. Woww.. tingga di jepang makk? Envyyy.. Saya mau tanya Mak, kalau WNI di LN itu rata-rata meng-homeschooling kan anak (kalau yg saya baca), kalau Mak sendiri gimana Mak? Alasannya apa aja Mak..

    ReplyDelete
  2. Kalo teman2 sekeliling saya gak homeschool siy, tetep sekolah Jepang tapiiii memang mereka mengajarkan bahasa indonesia atau sekolah SD online gitu. Saya kepengennya mah ngajar bahasa Inggris, bahasa Indonesia dan Agama sendiri. Mudah2an tercapai, aamiin. Makasih udah mampir Mak :)

    ReplyDelete
  3. waaaa, bookmark. ayo mak nulis lagi biar aku belajarnya dari sini aja huahahaha *pemalaasss

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa senengnya mak udah mampir, saya mood2an belajarnya, mudah2an bisa lebih semangat kalo belajarnya bareng2 :D

      Delete
  4. Walau anak-anak saya nggak homeschool, tapi saya banyak belajar dari postingan blog yang menarik seperti ini.
    Salut buat para emak yang sukses homeschool :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tosss! sama. Saya juga seneng ngikutin blog2 homeschooling, banyak memberi inspirasi :) makasih dah mampir yaaah

      Delete