Thursday, December 4, 2014

Saya Produk LDR

Kata Emak, hanya saya yang lahir tanpa ditunggui Bapak. Emak dan Bapak memang LDR sejak menikah, tetapi Bapak selalu pulang kampung menjelang Emak melahirkan. Kenapa? Karena yakin anak ketiga juga pasti laki-laki lagi? entahlah. Kata Emak lagi, Bapak sangat kepingin anak ketiga perempuan. Alhamdulillah terkabul, tapi sayang meninggal dunia saat masih kecil. Kemudian keinginan Bapak terpenuhi saat saya lahir, walaupun tidak beliau tunggui. Almarhumah kakak saya diberi nama Euis, dan saya Nyai. Padahal sudah pasti anak perempuan sekampung semua dipanggil Euis, Nyai, atau Neng di depan namanya. Mungkin saking senangnya punya anak perempuan. Untung juga nama saya bukan Neng, nanti dipanggil, "Neng Neng!"....seperti bunyi klenengan tukang es yang sering jualan keliling kampung!

Bapak kalau pulang ke kampung hanya beberapa hari. Tapi buat saya, itu beberapa hari yang sempurna. Bapak selalu mengajak saya kemanapun pergi, memancing di sungai atau belanja ke pasar. Bapak ada lama di rumah saat bulan Ramadhan, sebulan penuh! Karenanya untuk saya Ramadhan sangat istimewa sekali. Hari yang menyedihkan adalah ketika Bapak kembali ke ibukota untuk bekerja. Biasanya beliau berangkat subuh-subuh, dan kadang saya belum bangun. Menyadari Bapak sudah berangkat, saya biasanya berlari mendapati bak cucian yang sebentar lagi akan dibawa Emak untuk dicuci di sungai. Saya ciumi sarung dan kemeja Bapak yang suka dipakai ke masjid, mmmhhh bau Bapak. Seandainya boleh, saya kepingin sekali melarang Emak mencucinya.

Meski saya sering mengikuti Bapak kemana ia pergi, saya malah lupa detil apa yang kami kerjakan. Paling kuat saya ingat adalah saat saya berusaha mensejajarkan langkah kaki saya dengan kaki Bapak. Sulit sekali, karena langkah saya pendek-pendek, akibatnya saya sering berlari kecil. Saya juga ingat saya sering digendong sambil berjoget diiringi lagu dangdut dari radio tua kami. Atau saya berjoget sendiri sementara Bapak menjentikkan jarinya mengikuti irama. Saya juga ingat malam-malam Bapak pergi ke masjid untuk pengajian dan saya menunggu di rumah. Biasanya dari jauh terdengar suara eongan kucing, atau decakan lidah, atau apa saja penanda kalau Bapak sudah dekat dari rumah. Saya pun melonjak girang dan segera melongok melihat ke kegelapan, mencari-cari titik merah dari obor daun kelapa kering yang dibawa Bapak ke masjid. Saat itu di kampung saya belum ada listrik.

Karena ingatan saya yang kurang panjang ini, ada dua peristiwa misterius yang sampai sekarang saya belum tau kisah sebenarnya seperti apa. Pertama, saya ingat pergi memancing dengan Bapak ke kolam ikan uwak. Tetapi, hari itu kami pulang ke rumah membawa telur puyuh! saya lupa apa yang terjadi dengan kegiatan memancing kami. Kedua, saat saya kepingin ikut pentas menari lagu pop di sekolah meskipun dilarang Emak. Tidak lama Bapak saya pulang dari ibukota. Lalu saya gagal pentas, karena kata guru saya, kaset lagu pop-nya rusak. Apakah Bapak pulang untuk melakukan sabotase? entahlah.

Seeng dan Haseupan
gambar diambil dari sini
Bapak tidak pernah memarahi saya, meski saya sering melihat kakak saya yang nakal-nakal itu kena sentil. Bapak juga tidak pernah melarang saya begini begitu, kecuali melarang menonton tivi dan membaca buku cerita. Oleh karenanya, saya melihat Bapak sebagai pahlawan, dan Emak sebagai penjahat! Kalau saya habis dimarahi Emak, saya langsung berangkat ke dapur, melongokkan kepala ke dalam seeng (alat dapur untuk mengukus nasi, bentuknya unik seperti vas bunga besar, terbuat dari tembaga), melihat bayangan saya di air seeng sambil teriak, "Bapaaaaaak, cepet pulaaaaaaang!". Sering kali "panggilan" saya benar-benar membawa Bapak cepat pulang, jadi saya yakin sekali dengan kemanjuran trik ini. Setelah saya pikir-pikir, mungkin dulu saya sering sekali dimarahi ya, sehingga saya bisa berkesimpulan seperti itu.

Bapak juga selalu membuat saya bangga. Walaupun saya bukan anak Pak Guru, Pak Mantri apalagi Pak Kades, saya selalu menjadi yang paling "apdet" di sekolah. Ini berkat Bapak selalu membawakan majalah anak-anak dari ibukota. Meskipun majalah itu majalah lama dan sudah berbentuk bundel, tapi tidak ada anak di kampung saya yang punya, termasuk anak-anak penggede yang saya sebut tadi. Karena sangat berharganya majalah itu buat saya, saya tidak pernah meminjamkannya kepada anak lain. Saya lebih suka menceritakan kembali kisah-kisah menarik dari majalah itu. Bahkan saya ingat sering dipanggil ke depan kelas untuk menceritakan kisah-kisah dari majalah itu oleh Ibu Guru. Bangganyaaaaa!

Kini Bapak sudah tiada. Saya pun tidak dapat menungguinya saat beliau menghembuskan nafas terakhirnya. Saya tidak dapat memanggilnya datang kembali meskipun saya berteriak sampai serak ke dalam seeng tembaga. Hanya doa untuk Bapak, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, mengasihinya di alam sana, hingga kelak kami dapat berjumpa lagi. Amin.

4 comments:

  1. yah begitulah, hiks. Terimakasih sudah mampir.

    ReplyDelete
  2. Jadi inget Bapak.. Terkenang banget pandangan matanya tetakhir ketemu waktu mampir ke bogor & Qeela maasih di perut. Pandangannya penuh perhatian, sama seperti waktu mampir ke rawamangun dan fathia masih di perut. Sayang, bogor jauh banget :(

    ReplyDelete
  3. iya...bogornya di ujung dunia indah :)

    ReplyDelete