Tuesday, July 1, 2014

Mental Pelayan

Para pelayan Downton Abbey
gambar diambil dari http://paleononpaleo.com
Setiap hari saya bangun sebelum fajar, menyiapkan sarapan sekaligus bekal makan siang untuk suami dan si kakak, dari hari Senin hingga Jum'at.
Jum'at malam biasanya kami menggusur kasur-kasur ke ruang tamu, dan kami tidur di depan televisi. Kebetulan rumah kami modelnya bebas tanpa sekat, ruang tamu, ruang makan dan dapur menjadi satu ruangan besar. Dapur hanya dipisahkan dengan dengan kitchen counter saja, bagian atasnya dibiarkan terbuka. Sabtu pagi, ritual saya adalah menyiapkan sarapan yang dimasak di atas meja, biasanya pancake, waffel, atau hot sandwich. Membuat adonan instant, memotong buah-buahan, menyeduh teh atau kopi lalu mengeluarkan hot plate listrik, atau waffel/hot sandwich maker. Suami yang ingin leyeh-leyeh menikmati akhir pekan lebih memilih tidur hingga matahari tinggi. Anak-anak juga bergelimpangan mengelilingi ayahnya, tertidur pulas. Saat-saat berjinjit2 berusaha menyiapkan sarapan tanpa suara, sambil sesekali melihat wajah mereka yang tertidur adalah saat yang paling bahagia. Apalagi saat saya selesai menata meja dan satu-persatu mereka terbangun karena wangi sarapan yang memanggil, rasanya saya seperti melambung tinggi ke udara. Sampai-sampai saya sering merasa malu, murahan sekali saya ini. Tingkat pencapaian yang diinginkan amat sangat rendah, hanya ingin melayani suami dan anak-anak saja!

Mrs. Hughes
Gambar diambil dari
 http://downtonabbey.wikia.com/wiki/Elsie_Hughes 
Ketika menonton episode kedua serial Downton Abbey, Matthew Crawley, seorang pria modern yang berbeda denga pria-pria aristokrat lainnya, tidak ingin dilayani orang lain. Sampai-sampai asisten pribadinya sering salah tingkah, karena merasa jasanya tidak dibutuhkan. Sikap Matthew terhadap asistennya berubah ketika Robert Crawley/Lord Grantham, pemilik Downton Abbey menasihatinya, setiap manusia memiliki perannya masing-masing, dan kepuasan yang sama saat dapat melaksanakan perannya dengan baik. Nasihat yang diucapkan sambil lalu, ketika membahas kemungkinan sang Ibu kembali bekerja di rumah sakit yang dimiliki Downton. Saat itulah saya sadar, mengapa saya bahagia sekali melayani suami dan anak-anak; saya memiliki mental pelayan! seandainya saya hidup di Inggris tahun 1920-an, mungkin saya dapat merintis karir sebagai pelayan dan mencapai puncak karir seperti Mrs. Hughes, the head of housekeeper! 







Daftar acara televisi yang boleh ditonton,
ayah, ibu dan kakak masing-masing memilih 10 buah,
boleh memilih acara yang sama dan ditonton bersama,
kecuali Downton Abbey! :)
Di Jepang serial Downton Abbey baru diputar awal bulan Mei lalu, saya rekam dan baru ditonton saat ada waktu. Benar-benar perjuangan menontonnya, selain sulit menemukan waktu untuk menonton drama dewasa, juga karena sering tidak dapat menangkap dialog yang beraksen british kental, yang kedengaran seperti bisik-bisik saja karena volume-nya saya kecilkan. Parahnya, subtitle yang tersedia hanya bahasa Jepang! Lengkaplah perjuangan saya demi menonton drama yang pada tahun 2011 dinobatkan Guiness World of Records sebagai The Most Acclaimed English-language Television Series!


Oh ya, simak liputan menarik tentang Downton abbey disini , kalo gak di-klik nyesel deh :)





No comments:

Post a Comment